BEI dan PHEI Luncurkan Indeks Obligasi ESG, Kucuhkan Prospek Pasar Suku Usaha hingga 2027
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Peluncuran ini menandai langkah strategis pasar modal Indonesia dalam memperkuat transparansi investasi berkelanjutan, mencakup 69 seri obligasi dan sukuk yang telah lolos kriteria pemeringkatan ketat.
- Langkah ini sejalan dengan upaya BEI yang baru saja meluncurkan indeks obligasi ESG untuk menargetkan ekspansi produk investasi berkelanjutan.
- Peluncuran indeks ini didasari oleh kebutuhan pasar untuk memiliki tolok ukur yang valid guna menilai kinerja portofolio investasi ESG.
Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) secara resmi meluncurkan Indonesia ESG Bond Index, sebuah instrumen baru yang berfungsi sebagai acuan utama untuk memantau kinerja Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) yang mengintegrasikan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG). Peluncuran ini menandai langkah strategis pasar modal Indonesia dalam memperkuat transparansi investasi berkelanjutan, mencakup 69 seri obligasi dan sukuk yang telah lolos kriteria pemeringkatan ketat. Langkah ini sejalan dengan upaya BEI yang baru saja meluncurkan indeks obligasi ESG untuk menargetkan ekspansi produk investasi berkelanjutan.
Peluncuran indeks ini didasari oleh kebutuhan pasar untuk memiliki tolok ukur yang valid guna menilai kinerja portofolio investasi ESG. Direktur Utama PHEI, M. Kadhafi Mukrom, menjelaskan komposisi indeks tersebut terdiri dari 37 seri obligasi standar dan 32 seri premium. Seluruh konstituen dalam indeks ini memenuhi standar rating kredit yang tinggi, yaitu masuk dalam kategori Triple AAA dan Triple BBB Minus. Keberadaan indeks ini tidak hanya membuka peluang pengembangan produk investasi berbasis indeks baru, tetapi juga menjadi katalis bagi arus modal asing yang semakin condong ke instrumen hijau. Hal ini juga relevan di tengah dinamika pasar di mana BSI resmi meluncurkan rights issue untuk menggenjot masuknya modal asing ke pasar domestik.
Dinamika Pasar dan Tantangan Suku Bunga Global
PHIE optimistis bahwa prospek pasar obligasi dan sukuk korporasi di Indonesia akan tetap positif hingga tahun 2027. Kadhafi menilai kebutuhan perusahaan untuk memperoleh pendanaan di luar sektor perbankan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ini. "Kami melihat prospek ke depan akan terus meningkat. Kalau kita lihat dari sisi likuiditas, frekuensi transaksi di pasar obligasi terus mengalami pertumbuhan. Ini salah satu indikator ke depan bahwa pasar obligasi kita akan terus memiliki prospek yang baik," ujar Kadhafi. Namun, ia mengakui bahwa fluktuasi imbal hasil (yield) dan suku bunga domestik tetap menjadi tantangan struktural yang harus diantisipasi oleh para penerbit surat utang.
Di sisi lain, Direktur PHEI Djoko Saptono menyoroti risiko eksternal, khususnya potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) pada akhir tahun yang dapat meningkatkan biaya dana (*cost of fund*). Meski demikian, Djoko menegaskan bahwa fundamental permintaan pendanaan korporasi untuk *refinancing* masih solid. "Tapi kami melihat indikator, masih ada pertumbuhan, masih ada peluang. Karena, perusahaan-perusahaan pun masih membutuhkan pendanaan untuk refinancing dan sebagainya," jelas Djoko. Kombinasi antara permintaan domestik yang kuat dan ketersediaan instrumen indeks yang terukur menjadi penyangga daya tahan pasar surat utang.
Arsitektur Indeks dan Dampak bagi Investor
Secara struktural, Indonesia ESG Bond Index terbagi menjadi dua komponen yang dirancang untuk melengkapi kebutuhan pemantauan investor, yaitu:
- ID ESG Bond Total Return Index: Mengukur kinerja total dari investasi yang memperhitungkan imbal hasil dan perubahan harga.
- ID ESG Bond Clean Price Index: Mengukur kinerja hanya berdasarkan perubahan harga bersih tanpa memperhitungkan kupon yang dibayarkan.
Adopsi dua indeks ini akan memberikan fleksibilitas bagi manajer investasi dan investor institusi dalam merancang strategi portofolio yang lebih presisi. Dengan adanya acuan yang diselaraskan dengan standar ESG, investor dapat lebih mudah melakukan penilaian kinerja relatif terhadap pasar. Peluncuran indeks ini diharapkan dapat mempercepat inklusi instrumen keberlanjutan dalam skema pensiun dan dana abadi nasional, sekaligus meningkatkan kredibilitas Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dan hijau di Asia Tenggara.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

DOOH Akuisisi 29,88% Saham INET Senilai Rp2 Triliun untuk Perluas Ekosistem Digital

BI Buka 5 Opsi Penempatan DHE SDA, Eksportir Punya Fleksibilitas Maksimal

Pemerintah Bidik 9,7 Juta Hektare Lahan Rusak untuk Dorong Swasembada Gula dan Energi
