Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pemerintah Bidik 9,7 Juta Hektare Lahan Rusak untuk Dorong Swasembada Gula dan Energi

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Pemerintah Bidik 9,7 Juta Hektare Lahan Rusak untuk Dorong Swasembada Gula dan Energi
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Pemerintah Indonesia resmi membidik pemanfaatan lahan terdegradasi seluas 9,7 juta hektare untuk pengembangan perkebunan tebu.
  • Inisiatif ini menjadi bagian dari rencana besar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor gula industri dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
  • Menurut Hanif, proses evaluasi lahan tersebut melibatkan koordinasi intensif dengan World Research Institute (WRI) .

Pemerintah Indonesia resmi membidik pemanfaatan lahan terdegradasi seluas 9,7 juta hektare untuk pengembangan perkebunan tebu. Langkah strategis ini diumumkan oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq sebagai upaya krusial untuk mendongkrak produksi tebu nasional sekaligus mempercepat tercapainya program swasembada energi. Inisiatif ini menjadi bagian dari rencana besar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor gula industri dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Menurut Hanif, proses evaluasi lahan tersebut melibatkan koordinasi intensif dengan World Research Institute (WRI). Pemerintah saat ini tengah melakukan pemetaan terperinci untuk menentukan lokasi yang layak, dengan kriteria utama yaitu penghapusan area yang luasannya kurang dari 100 hektare karena dinilai tidak efisien untuk dikelola secara komersial. "Di Tanah Air kita ada lahan degradasi yang kemarin sore kami rapatkan dengan WRI dan luasannya sekitar 9,7 hektare," ujar Hanif saat berada di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada Jumat (6/11).

Komitmen Ketat: Larangan Konversi Hutan Alam

Salah satu prinsip utama dalam eksekusi program ini adalah kepatuhan total terhadap perlindungan lingkungan. Hanif menegaskan bahwa pengembangan lahan baru sama sekali tidak boleh dilakukan dengan cara mengkonversi hutan alam. Ia merujuk pada instruksi tegas dari Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna sebelumnya, yang melarang segala bentuk perusakan atau konversi terhadap hutan alam. "Perintah beliau tegas tidak ada hutan alam lagi yang dikonversi," jelas Hanif. Hal ini menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan tebu akan difokuskan secara eksklusif pada lahan-lahan yang telah rusak atau tidak produktif, sehingga tidak mengorbankan ekosistem hutan primer.

Perluasan lahan ini juga diiringi dengan rencana peningkatan produktivitas tanaman. Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 560 ribu hektare lahan tebu dengan produksi rata-rata hampir 3 juta ton per tahun. Meskipun angka ini cukup untuk memenuhi konsumsi gula domestik, pasokan tersebut masih belum mampu menutupi kebutuhan industri yang sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Oleh karena itu, pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas dari kisaran 65-70 ton per hektare menjadi 10-20 ton per hektare lebih tinggi melalui teknologi dan manajemen perkebunan yang lebih baik.

Dampak Ekonomi dan Tantangan Implementasi

Keberhasilan program ini akan berdampak signifikan pada struktur ekonomi pertanian nasional. Dengan meningkatkan rendemen dan luas tanam, pemerintah berharap dapat menciptakan surplus gula industri yang selama ini menjadi beban neraca perdagangan. Namun, tantangan terbesar terletak pada karakteristik tanaman tebu yang berbeda secara fundamental dengan kelapa sawit, sehingga membutuhkan perencanaan teknis yang sangat spesifik dan matang. Jika implementasi berjalan sesuai rencana, langkah ini tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah ekonomi dari lahan tidur, tetapi juga memastikan kemandirian energi dan pangan Indonesia di masa depan tanpa mengorbankan prinsip keberlanjutan lingkungan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ