Resiliensi Lo Kheng Hong: Strategi Bebas Utang Bantu Lewati 5 Krisis dengan Amblas Portofolio 85%
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Investor legendaris Lo Kheng Hong mengungkap strategi bertahan hidup yang jitu selama 37 tahun berinvestasi di pasar modal Indonesia, yakni dengan prinsip ketat tidak menggunakan utang.
- Dalam acara CMSE di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Kamis (5/11/2026), ia mengungkapkan bahwa portofolionya pernah mengalami penurunan nilai drastis hingga 85% akibat berbagai gejolak ekonomi.
- Pengalaman panjang sejak 1991 ini membuktikan bahwa ketahanan mental dan kelancaran arus kas menjadi kunci utama bagi investor ritel untuk tetap berdiri tegak di tengah badai krisis.
Investor legendaris Lo Kheng Hong mengungkap strategi bertahan hidup yang jitu selama 37 tahun berinvestasi di pasar modal Indonesia, yakni dengan prinsip ketat tidak menggunakan utang. Dalam acara CMSE di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Kamis (5/11/2026), ia mengungkapkan bahwa portofolionya pernah mengalami penurunan nilai drastis hingga 85% akibat berbagai gejolak ekonomi. Pengalaman panjang sejak 1991 ini membuktikan bahwa ketahanan mental dan kelancaran arus kas menjadi kunci utama bagi investor ritel untuk tetap berdiri tegak di tengah badai krisis.
Lo Kheng Hong menegaskan bahwa ada dua pilar utama yang menopang keberhasilannya melewati lima krisis besar: pertolongan Tuhan dan kedisiplinan finansial tanpa beban kewajiban. Ia selalu membeli saham menggunakan uang sendiri, sehingga ketika harga saham anjlok, ia tidak memiliki tekanan untuk segera menjual aset demi melunasi pinjaman. Pendekatan ini memungkinkan dirinya untuk bersabar menunggu pemulihan pasar tanpa risiko likuidasi paksa.
Jejak Lima Krisis Besar: Dari Tight Money 1991 hingga Tekanan 2026
Perjalanan Lo Kheng Hong dimulai pada 1991 saat pemerintah menerapkan kebijakan pengetatan likuiditas atau tight money policy di bawah Menteri Keuangan J.B. Sumarlin untuk menekan inflasi 8%. Kebijakan ini menarik dana BUMN dari perbankan ke Bank Indonesia, menyebabkan likuiditas ketat dan membuat portofolio Lo Kheng Hong anjlok 50%. Kondisi membaik pada 1992-1993 seiring pelonggaran kebijakan. Krisis kedua yang lebih dahsyat terjadi pada 1998, ketika nilai tukar rupiah merosot dari Rp2.400 menjadi Rp14.850 per dolar AS dan suku bunga melonjak hingga 70%. "Saya lihat portofolio saya waduh minus 85%. Saya sudah tidak kerja istri saya ibu rumah tangga anak dua, uangnya tinggal 15%," kenangnya. Meski demikian, ia justru melihat peluang dengan membeli saham-saham berkualitas yang diperdagangkan sangat murah, ibarat menemukan berlian di antara kerikil.
Krisis ketiga terjadi pada 2008 akibat guncangan subprime mortgage di Amerika Serikat, namun dampaknya di Indonesia relatif singkat karena kondisi ekonomi yang lebih sehat pasca-1998. Lo Kheng Hong juga menyinggung strategi Warren Buffett yang memanfaatkan momen tersebut untuk mengakuisisi saham Bank of America. Pada 2020, pandemi Covid-19 menekan bursa global, tetapi Lo Kheng Hong mampu memanfaatkan cadangan uang tunai yang besar untuk mengakumulasi saham murah. Strategi serupa kembali diterapkannya pada 2026, di mana ketersediaan dana tunai memungkinkan ia menambah kepemilikan emiten terpilih di tengah tekanan pasar.
Dampak Jangka Panjang: Keunggulan Likuiditas dan Kesabaran Investor
Kisah Lo Kheng Hong memberikan pelajaran berharga bagi investor modern bahwa ketahanan finansial lebih penting daripada sekadar mengejar imbal hasil jangka pendek. Dengan tidak memiliki utang, investor memiliki margin of safety yang lebih lebar untuk menahan volatilitas ekstrem. Pengalaman 37 tahun ini membuktikan bahwa pasar saham akan selalu mengalami siklus naik-turun, namun investor dengan fundamental keuangan yang kuat akan mampu bertahan dan bahkan memperbesar keuntungan saat harga aset berada di titik terendah. Keyakinannya bahwa dana tunai adalah amunisi utama dalam menghadapi krisis menjadi referensi strategis bagi pelaku pasar untuk mengelola risiko secara lebih prudent dan berkelanjutan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Lo Kheng Hong: Hujan Emas di Sektor Perbankan, Dividen Tembus 14% Saat IHSG Anjlok ke 5.000

Produsen Baja RI Ancam PHK Massal: Banjir Impor Pipa Seamless Dinilai Ciptakan Persaingan Tidak Adil

Pemerintah dan DPR Sepakati Pengangkatan 172 Ribu Guru Non-ASN dan Honorer Menjadi PPPK Penuh Waktu Mulai 2027
