Prestasi Bersejarah Perpusnas: Dua Naskah Nusantara Resmi Diakui UNESCO sebagai Ingatan Dunia
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- Dua naskah kuno Nusantara, Bo’ Sangaji Kai dan Kidung Bhawana Wināśa , resmi tercatat dalam Daftar Ingatan Dunia UNESCO pada Kamis (5/11).
- Pengumuman tersebut disampaikan dalam pertemuan umum ke-11 Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) yang berlangsung di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta.
- Pencapaian ini sejalan dengan upaya lain seperti runtutan Geopark Indonesia yang meraih rekomendasi UNESCO , menunjukkan meningkatnya perhatian internasional terhadap warisan kekayaan alam dan budaya Nusantara.
Dua naskah kuno Nusantara, Bo’ Sangaji Kai dan Kidung Bhawana Wināśa, resmi tercatat dalam Daftar Ingatan Dunia UNESCO pada Kamis (5/11). Pengumuman tersebut disampaikan dalam pertemuan umum ke-11 Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) yang berlangsung di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta. Kesuksesan ini menandai keberhasilan upaya pelestarian arsip nasional yang kini mendapat pengakuan resmi di tingkat kawasan Asia-Pasifik, menegaskan posisi Indonesia sebagai pemilik kekayaan dokumenter yang invaluable. Pencapaian ini sejalan dengan upaya lain seperti runtutan Geopark Indonesia yang meraih rekomendasi UNESCO, menunjukkan meningkatnya perhatian internasional terhadap warisan kekayaan alam dan budaya Nusantara.
Kedua naskah tersebut sebelumnya telah melalui proses ketat penilaian oleh tim Memory of the World Indonesia dan ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON). Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menjelaskan bahwa pencatatan resmi ke dalam memori kolektif dunia ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan validasi atas nilai substansi pengetahuan dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Pengakuan ini membuktikan bahwa naskah-naskah tersebut memiliki keunikan khusus yang tidak dapat ditemukan dalam arsip negara lain.
Nilai Historis dan Sastra dalam Dua Naskah Utama
Kedua naskah yang diusulkan memiliki konteks sejarah yang sangat kuat. Bo’ Sangaji Kai, yang berarti 'Catatan Kerajaan Bima', memuat catatan perjuangan Kesultanan Bima serta menjadi saksi mata peristiwa megah erupsi Gunung Tambora pada tahun 1815. Kehadiran data geografis dan sosial dalam naskah ini menjadikannya sumber referensi ilmiah yang langka. Di sisi lain, Kidung Bhawana Wināśa adalah autograf karya Ida Pedanda Ngurah yang merekam tragedi Puputan di Klungkung. Naskah ini tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga memiliki nilai sastra tinggi yang merekam emosi dan dinamika sosial pada zamannya. Komposit inilah yang menjadi dasar kuat pengajuan kedua karya tersebut ke tingkat internasional.
Proses pengajuan kedua naskah ini melibatkan kolaborasi strategis antara Perpusnas dan berbagai pemangku kepentingan lokal. Rincian mitra kolaborasi tersebut adalah:
- Bo’ Sangaji Kai: Diajukan melalui kolaborasi Perpusnas, Yayasan Museum Samparaja Bima, dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
- Kidung Bhawana Wināśa: Diajukan melalui kolaborasi Perpusnas, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung, Gria Agung Mandara Pemaron, serta Gria Gede Belayu.
E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa nilai unik dan tidak terulang inilah yang menjadi penanda pembeda sehingga UNESCO menetapkan kedua naskah tersebut sebagai memori kolektif dunia di kawasan Asia-Pasifik.
Pelestarian Berkelanjutan dan Dampak Pendidikan
Menurut Aminudin, pengakuan UNESCO bukanlah akhir dari perjalanan pelestarian, melainkan awal dari tahap pemanfaatan yang lebih intensif. Perpusnas bersama para mitranya berkomitmen untuk melanjutkan pengkajian mendalam terhadap kandungan naskah-naskah tersebut. Tujuannya adalah untuk mengolah data dokumenter menjadi sumber rujukan yang mudah diakses, sekaligus memperkaya pemahaman masyarakat tentang masa lalu bangsa berdasarkan fakta otentik. Langkah strategis berikutnya adalah menghadirkan isi naskah dalam bentuk bacaan modern agar dapat dinikmati oleh generasi masa kini, sekaligus menggali nilai-nilai luhur untuk diwariskan. Hal ini juga selaras dengan semangat inovasi strategis untuk dampak nyata bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal.
Lebih jauh, naskah-naskah ini diharapkan dapat menjadi instrumen efektif untuk pendidikan karakter bangsa. Dengan menjadikan arsip historis sebagai rujukan utama, generasi muda dapat belajar dari jejak sejarah dan karya sastra leluhur mereka. Dengan demikian, upaya pelestarian naskah tidak hanya sebatas pengawetan fisik, tetapi juga menghidupkan kembali ruh peradaban Nusantara dalam kurikulum dan kesadaran kolektif masyarakat.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Evakuasi Kru Heli Mi-17 di Kalteng Terkendala Lumpur, Menhut: Penyelam Hanya Bisa Meraba Badan Pesawat

Bareskrim Polri Jadikan Putusan MK dan MA sebagai Referensi Utama Usut Aduan Ijazah Gibran

Menhub dan Menaker Percepat Rencana Posko Terpadu Nataru 2026/2027 dan Kebijakan Work From Anywhere
