Evakuasi Kru Heli Mi-17 di Kalteng Terkendala Lumpur, Menhut: Penyelam Hanya Bisa Meraba Badan Pesawat
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Proses pencarian dan evakuasi Sertu (Anum) Heri Teguh Prasetyo , kru helikopter Mi-17V5 yang jatuh di perairan Kalimantan Tengah, menghadapi tantangan ekstrem.
- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa kondisi air yang sangat keruh dan berlumpur menjadi hambatan utama, sehingga jarak pandang penyelam nyaris nol.
- Dalam upaya penyelaman sebelumnya, petugas bahkan tidak dapat melihat badan helikopter dan terpaksa mengandalkan perabaan fisik untuk menentukan posisi pesawat di dasar perairan.
Proses pencarian dan evakuasi Sertu (Anum) Heri Teguh Prasetyo, kru helikopter Mi-17V5 yang jatuh di perairan Kalimantan Tengah, menghadapi tantangan ekstrem. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa kondisi air yang sangat keruh dan berlumpur menjadi hambatan utama, sehingga jarak pandang penyelam nyaris nol. Dalam upaya penyelaman sebelumnya, petugas bahkan tidak dapat melihat badan helikopter dan terpaksa mengandalkan perabaan fisik untuk menentukan posisi pesawat di dasar perairan.
Insiden ini terjadi saat helikopter milik Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) menjalankan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting pada Rabu (4/11). Kecelakaan tersebut menewaskan dua prajurit, yaitu Letkol CPN (Anum) Dudi Firmansyah dan Kapten CPN (Anum) Nurhafiz Akbar, sementara lima prajurit lainnya berhasil diselamatkan dan kini menjalani perawatan medis. Satu kru lainnya, Sertu (Anum) Heri Prasetyo, masih dalam status hilang.
Kendala Visual dan Strategi Penyelaman
Raja Juli menjelaskan bahwa selain visibilitas yang buruk, gelombang air laut yang cukup besar turut menyulitkan proses evakuasi. Untuk mengatasi keterbatasan pandangan, tim penyelam telah dibekali dengan pengetahuan teknis mendalam mengenai struktur helikopter Mi-17. Mereka mempelajari gambar dan video pesawat untuk mengidentifikasi lokasi pintu, pintu darurat, serta mekanisme pelepasan sabuk pengaman. Strategi ini diharapkan dapat mempercepat proses evakuasi meski dilakukan dalam kondisi jarak pandang yang sangat terbatas.
"Jadi kendalanya ini yang harus disampaikan. Pertama memang visibility bagi para penyelam sangat terbatas, airnya sangat kotor, sangat keruh, lumpur, berlumpur. Sehingga kemarin juga dicoba dimasukin sama sekali tidak bisa dilihat. Jadi hanya bisa meraba badan helikopter tersebut," ujar Raja Juli, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (6/11).
Penebalan Pasukan dan Koordinasi Puncak
Upaya evakuasi kini diperkuat dengan penambahan signifikan personel penyelam. Dari enam penyelam sebelumnya, tim bertambah menjadi sekitar 25 orang yang terdiri dari tambahan lima penyelam dari Basarnas, tujuh dari TNI Angkatan Laut, dan relawan lokal. Proses penarikan badan helikopter juga dibantu menggunakan helikopter Kamov. Raja Juli memastikan seluruh upaya dilakukan di bawah koordinasi ketat Pangdam, Kapolda, Gubernur, dan Bupati setempat, sesuai perintah Presiden untuk menuntaskan proses penyelamatan secara maksimal.
- 2 prajurit gugur: Letkol CPN (Anum) Dudi Firmansyah dan Kapten CPN (Anum) Nurhafiz Akbar.
- 1 prajurit hilang: Sertu (Anum) Heri Teguh Prasetyo.
- 5 prajurit selamat: Kapten Febri, Kapten Sugand, Letda Fercis, Pratu Gilang, dan Sersan Kepala Kadiya.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

AHY: Progres Underpass Bitung Capai 70,7 Persen, Target Rampung Februari 2026

Wamensos dan Habib Husein Ja'far Tekankan Penguatan Karakter SDM Sekolah Rakyat di Bogor

UGM Hormati Proses Hukum, Sampaikan Sempat Jadi Sasaran Tuduhan Ijazah Palsu di Sidang Roy Suryo
