Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Menavigasi Ketidakpastian: Sino-Nusantara Institute Siapkan 'Policy Brief' Strategis Jelang APEC 2026 di Tiongkok

Berita NasionalRina WijayaRina WijayaSumber: Antara News
Rina Wijaya
Rina Wijaya
Jurnalis Investigasi

Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Menavigasi Ketidakpastian: Sino-Nusantara Institute Siapkan 'Policy Brief' Strategis Jelang APEC 2026 di Tiongkok
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Partisipasi dalam FGD ini dipilih dengan ketat berdasarkan kompetensi, pengalaman, dan relevansi keahlian terhadap isu-isu terkini.
  • Tujuan utamanya bukan sekadar pertukaran gagasan, melainkan menghasilkan rumusan kebijakan berupa policy brief yang akan menjadi masukan penting bagi pengambil keputusan di Indonesia.
  • Tiongkok akan menjadi tuan rumah APEC untuk ketiga kalinya, dengan pelaksanaan puncak dijadwalkan pada 18-19 November 2026 di Shenzhen, Provinsi Guangdong.

Sino-Nusantara Institute bersama The Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) secara aktif menjaring masukan komprehensif dari para pakar, akademisi, dan praktisi untuk mempersiapkan Indonesia menghadapi gelaran Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2026 di Tiongkok. Inisiatif strategis ini diluncurkan melalui Forum Diskusi Kelompok Terfokus (focus group discussion/FGD) bertema "APEC 2026 Shenzhen dan Masa Depan Indonesiaโ€“Tiongkok: Menavigasi Peluang di Tengah Ketidakpastian Global". Ahmad Syaifuddin Zuhri, Direktur Sino-Nusantara Institute, menegaskan di Semarang pada Jumat bahwa langkah ini bertujuan memperkuat pemahaman Indonesia terhadap dinamika APEC 2026, khususnya dalam konteks hubungan ekonomi strategis dengan Tiongkok.

Partisipasi dalam FGD ini dipilih dengan ketat berdasarkan kompetensi, pengalaman, dan relevansi keahlian terhadap isu-isu terkini. Tujuan utamanya bukan sekadar pertukaran gagasan, melainkan menghasilkan rumusan kebijakan berupa policy brief yang akan menjadi masukan penting bagi pengambil keputusan di Indonesia. Tiongkok akan menjadi tuan rumah APEC untuk ketiga kalinya, dengan pelaksanaan puncak dijadwalkan pada 18-19 November 2026 di Shenzhen, Provinsi Guangdong.

Fokus pada Transformasi Digital dan Konsep 'Co-Creation'

Dalam FGD tersebut, diskusi mengerucut pada isu prioritas APEC 2026 yang mencakup transformasi digital, ekonomi hijau, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Menurut Zuhri, transformasi digital menjadi peluang ekonomi baru yang signifikan karena Tiongkok merupakan salah satu pelaku utama dalam perkembangan teknologi global. Indonesia didorong untuk memanfaatkan forum APEC guna memperintensif kerja sama melalui model 'co-creation', sebuah paradigma kerja sama baru yang melampaui hubungan pasar tradisional.

  • Model Co-Creation: Menciptakan peluang bersama antara kedua negara, bukan sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial.
  • Transfer Pengetahuan: Melibatkan transfer of knowledge and technology untuk memperkuat ekosistem digital Indonesia.
  • Potensi Pengguna: Mengingat Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia, potensi ekonomi digital menjadi kekuatan tawar yang utama.

Menangangi Tantangan Birokrasi dan Investasi Lokal

Meskipun peluang kerja sama sangat besar, Zuhri mengakui adanya tantangan struktural yang harus diatasi, terutama terkait hambatan birokrasi yang selama ini dinilai memengaruhi iklim investasi di Indonesia. Selain itu, terdapat faktor tidak terlihat yang berdampak, yakni kompleksitas hubungan dengan masyarakat lokal, organisasi kemasyarakatan, dan pemimpin pemerintahan di tingkat lokal. Tantangan ini menjadi bagian dari analisis mendalam yang akan tercantum dalam policy brief tersebut, memastikan bahwa rekomendasi kebijakan yang dihasilkan tidak hanya berfokus pada aspek teknis ekonomi, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial dan tata kelola lokal yang esensial bagi keberlangsungan investasi di Indonesia.

BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ