Ekonomi RI Tumbuh 5,47 Persen di Kuartal III 2026, TPT Turun Tipis
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan capaian positif ekonomi nasional dengan pertumbuhan sebesar 5,47 persen (year-on-year) pada triwulan III 2026.
- Kinerja ini didorong oleh Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) yang mencapai Rp3.633,2 triliun , sementara PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp6.741,0 triliun.
- Angka ini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global, sekaligus mendekati target pertumbuhan tahunan pemerintah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan capaian positif ekonomi nasional dengan pertumbuhan sebesar 5,47 persen (year-on-year) pada triwulan III 2026. Kinerja ini didorong oleh Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) yang mencapai Rp3.633,2 triliun, sementara PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp6.741,0 triliun. Angka ini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global, sekaligus mendekati target pertumbuhan tahunan pemerintah.
Secara makro, pemerintah telah menetapkan sasaran pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 sebesar 5,4 persen (year-to-date) yang selaras dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pencapaian kuartal III yang melampaui target tahunan ini menjadi sinyal kuat bagi stabilitas fiskal dan moneter negara.
Detail Kinerja Makro dan Kebijakan Strategis
Di samping data pertumbuhan ekonomi, terdapat beberapa perkembangan strategis lainnya yang menjadi sorotan. Terkait infrastruktur transportasi, Bobby Rasyidin, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengimpor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang, menandakan komitmen terhadap standar kualitas dan teknologi domestik. Keputusan ini sejalan dengan upaya pendukung penuh industri dalam negeri.
Sementara itu, dalam pengembangan infrastruktur perkotaan, Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) bersama Danantara menargetkan peletakan batu pertama (ground breaking) untuk proyek pembangunan 12 kawasan kota masa depan atau smart city pada Desember 2026. Proyek ambisius ini akan dilaksanakan di tiga lokasi strategis untuk mendorong transformasi digital dan efisiensi urban. Perkembangan ini juga relevan dengan langkah KAI menggandeng negara bangun trem Bali senilai Rp2 triliun yang melayani wisata utama 2028.
Dampak terhadap Tenaga Kerja dan Proyeksi ke Depan
Dari sisi ketenagakerjaan, BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2026 mengalami penurunan tipis sebesar 0,09 persen poin dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 (year-on-year). Meskipun penurunannya tipis, tren positif ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang solid mulai memberikan efek pengganda (multiplier effect) terhadap penyerapan tenaga kerja.
Kombinasi antara pertumbuhan PDB yang melampaui target, penundaan impor KRL bekas demi kualitas, serta percepatan pembangunan smart city oleh Danantara, mengindikasikan arah kebijakan ekonomi yang berfokus pada kualitas dan keberlanjutan. Penurunan TPT, meski marginal, menjadi indikator awal bahwa pasar kerja mulai pulih seiring dengan ekspansi investasi dan pembangunan infrastruktur nasional.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

Bitcoin Tembus 80.000 Dolar AS, Indodax Petakan Sinyal Pemulihan Sentimen Pasar

PTPN IV PalmCo Percepat Ekspor Langsung CPO dan Efisiensi Biaya Jelang Akhir 2026

Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp91.600/kg, Telur Ayam Stabil di Rp29.000
