BMW Pangkas 1.800 Karyawan di China: Dampak Tekanan Finansial dan Penurunan Penjualan Tajam
Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

- Industri otomotif global kembali mengalami guncangan signifikan saat BMW Group resmi memangkas 1.800 karyawan di China atau sekitar 10 persen dari total tenaga kerja di BMW Brilliance Automotive (BBA).
- Kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) ini berlaku efektif sejak Senin (2/11) dan menyasar berbagai divisi, mulai dari lini produksi hingga staf administratif.
- Langkah drastis ini tidak terlepas dari anjloknya penjualan BMW di pasar China yang selama ini menjadi kontributor utama bagi pendapatan perusahaan di Asia.
Industri otomotif global kembali mengalami guncangan signifikan saat BMW Group resmi memangkas 1.800 karyawan di China atau sekitar 10 persen dari total tenaga kerja di BMW Brilliance Automotive (BBA). Kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) ini berlaku efektif sejak Senin (2/11) dan menyasar berbagai divisi, mulai dari lini produksi hingga staf administratif. Langkah drastis ini tidak terlepas dari anjloknya penjualan BMW di pasar China yang selama ini menjadi kontributor utama bagi pendapatan perusahaan di Asia.
Karyawan yang terdampak menerima paket kompensasi pesangon dengan skema N+5, di mana komponen N dihitung berdasarkan gaji bulanan sebelum pajak dan angka 5 berasal dari gaji pokok di luar bonus kinerja. Fokus utama pemangkasan ini tertuju pada fasilitas manufaktur utama yang berlokasi di Shenyang, Provinsi Liaoning. Fasilitas tersebut merupakan basis produksi terbesar BMW di dunia, dengan 75 persen sahamnya dikuasai langsung oleh BMW Group.
Restrukturisasi Global dan Penurunan Kinerja Finansial
Pemangkasan di China ini merupakan bagian dari rencana restrukturisasi global BMW yang lebih luas. Sebelumnya, perusahaan telah merencanakan pengurangan sekitar 8.000 karyawan atau 5 persen dari total 154.000 tenaga kerja globalnya. Jika efisiensi di China fokus pada lini produksi, restrukturisasi di kantor pusat Jerman lebih difokuskan pada bagian administratif, riset dan pengembangan (R&D), serta perencanaan proyek. Tekanan finansial yang dihadapi perusahaan terlihat jelas dari laporan kuartal pertama, di mana laba sebelum pajak BMW merosot 29,4 persen secara year-on-year (YoY) pada paruh pertama 2026.
Kinerja segmen otomotif juga mengalami kemerosotan tajam dengan marjin EBIT terpuruk ke angka 3,6 persen, jauh di bawah target jangka panjang perusahaan di rentang 8 hingga 10 persen. Secara global, volume pengiriman kendaraan BMW pada tiga kuartal pertama 2026 turun 4,9 persen menjadi 1,71 juta unit. Berikut adalah data penurunan kinerja pasar utama:
- Pengiriman unit BMW dan Mini di China anjlok 21,8 persen menjadi sekitar 376.000 unit.
- Kontribusi pasar China terhadap penjualan global BMW menyusut dari 32,3 persen pada 2023 menjadi 25,4 persen pada 2025.
Basis Manufaktur Shenyang dan Model Terpengaruh
Fasilitas BBA di Shenyang memproduksi sejumlah model populer yang kini menjadi fokus efisiensi. Model yang diproduksi di basis ini mencakup lini bensin dan listrik yang strategis bagi pasar premium global. Dampak PHK di fasilitas terbesar ini diperkirakan akan memengaruhi kapasitas produksi serta strategi distribusi model-model unggulan di pasar Asia. Kelangsungan operasional pabrik ini akan menjadi penentu berikutnya dalam upaya pemulihan pangsa pasar BMW di kawasan yang paling kompetitif.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Daihatsu Optimis: Penjualan 10 Bulan 2026 Melonjak 8% Dipimpin Gran Max

Pemprov Maluku hingga DKI Jakarta Perpanjang Gelombang Pemutihan Denda Pajak Kendaraan

Dongfeng Incar Hak Debut Baterai CATL Shenxing Gen 3: Isi Penuh Hanya 6 Menit
