TNI AD Ungkap Kronologi Penembakan Warga saat Penurunan Bendera Bulan Bintang di Pidie Jaya
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- TNI Angkatan Darat (AD) secara resmi menguraikan kronologi peristiwa penurunan Bendera Bulan Bintang yang berujung pada jatuhnya korban jiwa saat peringatan Maulid Nabi di Pidie, Aceh.
- Menurut Donny, lokasi kegiatan Maulid Nabi yang semula dijadwalkan di Desa Udeung Poroh, bermigrasi ke Makam Abdullah Syafi'i di Cubo, Bandar Baru, Pidie Jaya.
- Namun, proses penertiban yang dilakukan di Desa Pulo Keunari memicu eskalasi ketegangan.
TNI Angkatan Darat (AD) secara resmi menguraikan kronologi peristiwa penurunan Bendera Bulan Bintang yang berujung pada jatuhnya korban jiwa saat peringatan Maulid Nabi di Pidie, Aceh. Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen Donny Pramono, menegaskan bahwa insiden maut tersebut dipicu oleh kegagalan mediasi antara petugas keamanan dan panitia penyelenggara, yang mengedepankan pengibaran bendera dengan simbol tersebut meski telah dilakukan pendekatan sebelumnya.
Menurut Donny, lokasi kegiatan Maulid Nabi yang semula dijadwalkan di Desa Udeung Poroh, bermigrasi ke Makam Abdullah Syafi'i di Cubo, Bandar Baru, Pidie Jaya. Namun, proses penertiban yang dilakukan di Desa Pulo Keunari memicu eskalasi ketegangan. Dalam keterangannya yang dirilis pada Kamis (5/11), Donny menyatakan situasi memanas akibat aksi pelemparan batu dan kayu ke arah personel TNI, serta ditemukannya warga membawa senjata tajam. "Dalam proses penertiban di Desa Pulo Keunari, situasi meningkat dan terjadi aksi pelemparan batu serta kayu ke arah personel TNI," klaim Donny.
Dinamika Konfrontasi di Lapangan dan Dampaknya
Faksi TNI AD mengklaim telah melakukan langkah pengendalian huru-hara secara bertahap untuk membubarkan massa yang dinilai anarkis. Proses ini dimulai dari tembakan peringatan menggunakan amunisi hampa hingga penggunaan amunisi karet yang ditujukan untuk mengancam keselamatan personel. Setelah massa membubarkan diri, barulah personel TNI menurunkan bendera tersebut dari tiang.
- Korban Jiwa: 1 orang meninggal dunia.
- Korban Luka: 13 orang warga mengalami luka-luka.
- Identitas Korban: Abzalul Riza, warga Desa Dayah Gampong Baro, Tiro, Pidie.
- Waktu Pemakaman: Kamis (5/11) pukul 01.00 WIB.
Sementara itu, narasi dari versi warga yang diwartakan CNN Indonesia menunjukkan adanya perbedaan persepsi terkait arah tembakan. Amran, saksi warga Pulo Kenari yang turut berada di lokasi, menuturkan bahwa warga awalnya mengadang TNI yang berniat masuk ke pekarangan musala. Ia meragukan klaim bahwa tembakan hanya sebagai peringatan atau ditujukan ke udara. "Cukup jelas tembakan itu diarahkan ke kami ada banyak korban luka-luka akibat kena tembak dan ada yang meninggal," kata Amran. Perdebatan data ini kini menjadi sorotan utama dalam upaya investigasi lanjutan untuk mengungkap fakta objektif di balik ketegangan di Aceh tersebut.
Respons Publik dan Pelacakan Informasi
Perbedaan narasi antara institusi keamanan dan saksi lapangan menunjukkan urgensi pelacakan independen dalam kasus hukum dan kemanusiaan ini. Meskipun TNI AD telah memberikan poin-poin data kronologis yang terperinci, klaim warga bahwa tembakan diarahkan langsung ke kerumunan menciptakan dinamika publik yang kritis. Isu tersebut juga menyentuh isu simbolik di mana bendera yang dikenal dengan istilah SARA menjadi pemicu utama konflik di wilayah yang sensitif secara sosial politik. Hingga berita ini diturunkan, pencarian informasi terkait respons pemerintah daerah dan potensi investigasi hukum di level provinsi masih menjadi perhatian tinggi bagi masyarakat Aceh untuk memastikan keadilan bagi para korban luka serta keluarga dari Abzalul Riza.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Sindir Roy Suryo di Persidangan, Jokowi Bongkar Riwayat Wisuda UGM 1985 untuk Bantah Tuduhan Ijazah Palsu

Yorrys Raweyai: DPD RI Periode 2024-2029 Fokus Konsolidasi dan Menyapa Daerah

Momen Viral di PN Jaktim: Roy Suryo Tertawa Saat Jokowi Pamerkan Ijazah SD hingga S1
