Simbolis Tuntutan Pemakzulan: Forum Kebangsaan DIY Turunkan Foto Wapres Gibran di Ruang Banggar
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Aksi ini berlangsung saat massa memasuki ruang sidang untuk membacakan pernyataan sikap dan menggelar audiensi dengan jajaran DPRD DIY.
- Turut hadir dalam aksi tersebut adalah mantan Wakil Wali Kota Yogyakarta Syukri Fadholi sebagai pelindung forum, serta Muhammad Chirzin selaku pembina yang menginisiasi kegiatan tersebut.
- Peristiwa penurunan foto ini terjadi sesaat sebelum agenda resmi audiensi dimulai.
Sejumlah aktivis dan tokoh dari Forum Kebangsaan Yogyakarta melakukan aksi simbolik dengan menurunkan foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang terpasang di ruang Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY pada Rabu (4/11/2026). Aksi ini berlangsung saat massa memasuki ruang sidang untuk membacakan pernyataan sikap dan menggelar audiensi dengan jajaran DPRD DIY. Turut hadir dalam aksi tersebut adalah mantan Wakil Wali Kota Yogyakarta Syukri Fadholi sebagai pelindung forum, serta Muhammad Chirzin selaku pembina yang menginisiasi kegiatan tersebut.
Peristiwa penurunan foto ini terjadi sesaat sebelum agenda resmi audiensi dimulai. Menurut keterangan di lapangan, beberapa massa mendekati foto Gibran yang tergantung di sisi kanan mimbar. Salah satu peserta aksi berseru, "Bismillahirohmanirohim, kita turunkan berhala!", yang kemudian diikuti oleh seluruh peserta dengan sorak-sorai. Foto tersebut lalu diletakkan di lantai, di mana massa juga sempat berfoto dengan objek di bawahnya sambil berujar, "Jangan dirusak, jangan dirusak". Setelah rangkaian audiensi selesai, foto wakil presiden tersebut kembali dipasang pada tempat semula oleh pihak penyelenggara.
Pesan Politik di Balik Aksi Turunnya Foto Wakil Presiden
Muhammad Chirzin menjelaskan bahwa kedatangan pihaknya ke DPRD DIY bertujuan untuk menyampaikan kegelisahan publik terkait kondisi kebangsaan. Ia menegaskan bahwa aksi penurunan foto bukan sekadar perampasan atribut, melainkan sebuah pesan politik yang kuat. "Penurunan foto Gibran di ruang sidang DPRD DIY mengandung pesan penurunan Gibran harga mati," ujar Chirzin. Menurutnya, aksi yang digambarkan sebagai gerakan spontan ini memiliki dimensi simbolis yang berkaitan erat dengan tuntutan pemakzulan terhadap sosok kepala negara wakil rakyat tersebut.
Chirzin menambahkan, aksi ini dipicu oleh kekecewaan terhadap komitmen legislatif pusat dalam menindaklanjuti aspirasi masyarakat. "Dalam sambutan saya sepintas di forum tadi, andai kata Dewan Perwakilan Rakyat RI tidak menindaklanjuti sebagaimana yang semestinya," tandasnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Forum Kebangsaan DIY menjadikan audiensi di tingkat daerah sebagai titik tolak untuk menekan respons DPR RI terkait isu-isu kebangsaan yang berkembang.
Respons dan Dampak Simbolis di Tubuh Legislatif Daerah
Aksi di Ruang Banggar DPRD DIY ini menyoroti ketegangan antara elemen masyarakat sipil dan institusi politik daerah. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Syukri Fadholi, yang dikenal sebagai figur publik di Yogyakarta, memberikan bobot tersendiri pada legitimasi gerakan tersebut. Meskipun foto kembali dipasangkan setelah aksi selesai, simbolisme dari gerakan "menurunkan berhala" tersebut telah tercatat sebagai momen krusial dalam dinamika hubungan warga dan pemerintah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Langkah selanjutnya dari Forum Kebangsaan DIY akan ditentukan oleh respons DPRD DIY terhadap pernyataan sikap yang telah disalurkan. Dengan menyelaraskan narasi lokal dengan tuntutan nasional terkait kinerja kepemimpinan nasional, gerakan ini berpotensi memicu diskusi lebih lanjut di ruang-ruang legislatif dan publik mengenai batas-batas ekspresi politik warga negara terhadap figur kepala negara.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Sultan Najamudin Dorong 'Green Legislasi': 5 RUU Prioritas DPD RI untuk Keseimbangan Ekologi

Andil Industri Pengolahan Tumpu Pertumbuhan Ekonomi RI 5,47 Persen, Sektor Perdagangan dan Konstruksi Ikut Terakselerasi

Sultan Baktiar Najamudin Jelaskan Makna 152 Anggota DPD dan 80 Juta Suara Rakyat Daerah
