OJK Rekam Penghimpunan Dana Pasar Modal Tembus 84 Persen Target 2026
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat capaian signifikan dalam penghimpunan dana melalui penawaran umum di pasar modal, yang mencapai Rp209,77 triliun hingga akhir Oktober 2026.
- Angka ini mewakili sekitar 84 persen dari target tahunan regulator sebesar Rp250 triliun, menandakan ketahanan sektor pasar modal sebagai instrumen pendanaan utama bagi korporasi domestik.
- Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi , menyatakan bahwa minat korporasi domestik untuk melakukan penghimpunan dana melalui pasar modal masih cukup tinggi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat capaian signifikan dalam penghimpunan dana melalui penawaran umum di pasar modal, yang mencapai Rp209,77 triliun hingga akhir Oktober 2026. Angka ini mewakili sekitar 84 persen dari target tahunan regulator sebesar Rp250 triliun, menandakan ketahanan sektor pasar modal sebagai instrumen pendanaan utama bagi korporasi domestik.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa minat korporasi domestik untuk melakukan penghimpunan dana melalui pasar modal masih cukup tinggi. Hal ini diungkapkan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Oktober 2026 yang dilaksanakan secara daring di Jakarta pada Kamis. Capaian tersebut bersumber dari 179 transaksi penawaran umum yang berlangsung sepanjang Januari hingga Oktober 2026.
Detail Komposisi Penghimpunan dan Pipeline Proyek
Secara komposisi, Penghimpunan dana tersebut didominasi oleh instrumen berisiko rendah hingga menengah. Penawaran umum berkelanjutan efek bersifat utang dan/atau sukuk (PUB EBUS) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp144,94 triliun dari 141 transaksi. Di bawahnya, 20 penawaran umum terbatas (PUT) berhasil menghimpun Rp51,99 triliun, diikuti 11 penawaran umum EBUS senilai Rp10,68 triliun, serta tujuh penawaran umum perdana saham (IPO) yang menyumbang Rp2,16 triliun.
Peningkatan signifikan sebesar Rp23,74 triliun terlihat dibandingkan realisasi hingga September 2026 yang tercatat Rp186,03 triliun. Di luar realisasi yang telah berjalan, OJK mencatat adanya 26 rencana penawaran umum dalam antrean (pipeline) dengan nilai indikatif total Rp24,46 triliun. Rincian pipeline tersebut antara lain:
- 8 rencana IPO dengan nilai indikatif Rp9,15 triliun
- 3 rencana PUT
- 1 rencana Penawaran umum EBUS
- 14 rencana PUB EBUS
Dinamika Pasar dan Komitmen Perlindungan Investor
Terhadap target tahunan, penghimpunan dana saat ini telah mencapai 83,91 persen, meninggalkan selisih Rp40,23 triliun menuju target OJK. Meskipun demikian, Hasan mengingatkan bahwa realisasi hingga akhir tahun tetap bergantung pada dinamika pasar dan keputusan masing-masing emiten. Faktor seperti minat investor serta pertimbangan momentum penerbitan dan biaya pendanaan akan mempengaruhi kelanjutan data penghimpunan.
Regulator juga melaporkan penghimpunan dana melalui skema urun dana berbasis efek (securities crowdfunding) secara kumulatif mencapai Rp2,09 triliun hingga 29 Oktober 2026, meningkat dari Rp2,06 triliun pada akhir September. OJK menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai sumber pembiayaan dengan mengedepankan kualitas keterbukaan informasi dan perlindungan investor di tengah fluktuasi pasar keuangan saat ini.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Jokowi dan Roy Suryo Bersalaman Hangat Usai Sidang Fitnah Ijazah di PN Jaktim

BPS NTB Catat Laju Pertumbuhan Ekonomi Kumulatif 9,37 Persen, Melampaui Target RPJMD

Gubernur Maluku Utara Soroti Dilema Anggaran: Sofifi 27 Tahun Jadi Ibukota namun Masih Berstatus Kelurahan
