Samuel Wattimena Dorong Pencatatan Sejarah Komprehensif Perancang Busana Indonesia Sejak 1950
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Inisiatif ini dilangsungkan dalam rangkaian acara instalasi MODE Indonesia yang bertujuan melestarikan warisan intelektual dan kreatif bangsa.
- "Dari situ kemudian saya memahami bahwa orang yang autodidak kayak saya di Jakarta, apalagi di daerah, itu banyak sekali.
- Karena sekolah mode di luar maupun sekolah mode di sini itu enggak murah," tegasnya.
Pada sesi pra-peluncuran buku "MODE Indonesia by Samuel Wattimena" di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, perancang busana ternama Samuel Wattimena menyerukan urgensi pendokumentasian riwayat para desainer fesyen nasional. Anggota Komisi VII DPR RI periode 2024โ2029 tersebut menilai kebutuhan akan buku sejarah yang komprehensif, yang merekam jejak perancang sejak era 1950-an hingga masa kini, sebagai langkah krusial untuk memahami evolusi orientasi dan sistem kerja industri mode Indonesia.
Inisiatif ini dilangsungkan dalam rangkaian acara instalasi MODE Indonesia yang bertujuan melestarikan warisan intelektual dan kreatif bangsa. Samuel menyoroti bahwa akses pendidikan formal di bidang mode saat ini telah jauh lebih terbuka dibandingkan era 1950-an hingga 1970-an, di mana keterbatasan fasilitas membuat banyak talenta terpaksa menempuh jalur autodidak seperti yang ia alami sendiri.
Jalur Autodidak dan Latar Historis Kemunculan Desainer Nasional
Samuel, yang berhasil menjuarai Lomba Perancang Mode (LPM) tahun 1979 dengan bekal keterampilan menggambar dan ilmu merancang yang dipelajari secara mandiri, menyadari bahwa dirinya bukanlah satu-satunya. "Dari situ kemudian saya memahami bahwa orang yang autodidak kayak saya di Jakarta, apalagi di daerah, itu banyak sekali. Karena sekolah mode di luar maupun sekolah mode di sini itu enggak murah," tegasnya. Fakta ini mengindikasikan bahwa di balik kemegahan panggung fesyen nasional, terdapat banyak cerita perjuangan desainer yang lahir dari keterbatasan akses pendidikan formal di masa lalu.
Ekspektasi Referensi Akademik untuk Generasi Muda
Kehadiran dokumentasi sejarah ini diharapkan tidak hanya menjadi arsip data, tetapi juga menjadi instrumen edukasi bagi penerus industri kreatif. Samuel berharap buku tersebut dapat menjadi rujukan utama bagi pelajar dan peminat fesyen untuk memetakan perkembangan disiplin mode di Indonesia.
- Mendokumentasikan perancang dari era 1950-an hingga kini.
- Mengidentifikasi orientasi kerja dan sistem produksi desainer masa lampau.
- Memberikan inspirasi bagi talenta desainer dari latar belakang daerah yang akses pendidikannya terbatas.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

PAN Tahan Sikap Politik atas Putusan MA Ijazah Gibran, Soroti Pentingnya Supremasi Hukum

Yusril Usulkan BSSN Awasi Alat Penyadap untuk Cegah Penyalahgunaan Kewenangan

Demokrat Duga Jadi Korban Penyadapan Ilegal Listyo Sigit, Herman Khaeron Minta Polisi Ungkap Dalang
