Polda Metro Dalami Dugaan Penggunaan Mahasiswa Bayaran di Aksi Sumpah Pemuda
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Polda Metro Jaya resmi memburu dalang di balik dugaan keterlibatan mahasiswa bayaran dalam acara peringatan Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran HI , Jakarta.
- Langkah investigasi ini diambil setelah muncul polemik terkait tiga peserta yang mengenakan almamater kampus tanpa status mahasiswa aktif, memicu kritik tajam dari publik dan pihak penyelenggara.
- Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut integritas peringatan Sumpah Pemuda yang seharusnya melibatkan pemuda dari berbagai latar belakang, bukan sekadar mahasiswa yang diupah untuk hadir.
Polda Metro Jaya resmi memburu dalang di balik dugaan keterlibatan mahasiswa bayaran dalam acara peringatan Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Langkah investigasi ini diambil setelah muncul polemik terkait tiga peserta yang mengenakan almamater kampus tanpa status mahasiswa aktif, memicu kritik tajam dari publik dan pihak penyelenggara. Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menegaskan bahwa pihak kepolisian berkomitmen mengungkap kronologi lengkap di balik masuknya individu-individu tersebut menggunakan jas almamater ke dalam area acara.
Dugaan ini mencuat setelah tiga peserta, yaitu Vrisma Nurhaliza, Sari Putri, dan Bayu Setiadi alias Dino, secara publik menyampaikan permintaan maaf karena bukan mahasiswa dari institusi yang mereka sangka diwakili. Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut integritas peringatan Sumpah Pemuda yang seharusnya melibatkan pemuda dari berbagai latar belakang, bukan sekadar mahasiswa yang diupah untuk hadir.
Kronologi Investigasi dan Klarifikasi Peserta
Polda Metro Jaya menyebutkan bahwa proses pengumpulan informasi sedang dilakukan untuk mengetahui mekanisme bagaimana mahasiswa "sewaan" tersebut dapat hadir. Budi Hermanto menjelaskan bahwa penyelenggara dan kepolisian sama-sama tidak menginginkan adanya praktik mahasiswa bayaran dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan, acara Sumpah Pemuda seyogianya terbuka bagi seluruh kalangan pemuda, bukan eksklusif untuk mahasiswa. "Makanya, ini audit, investigasi, didalami, kenapa mahasiswa bayaran tadi dalam tanda kutip bisa berada di situ menggunakan jas almamater," kata Budi pada Rabu (4/11). Ia juga mengklarifikasi bahwa kegiatan tersebut memiliki Event Organizer (EO) tersendiri, bukan ditangani langsung oleh kepolisian.
- Vrisma Nurhaliza meminta maaf karena bukan mahasiswa Universitas Terbuka.
- Sari Putri mengakui bukan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
- Bayu Setiadi (Dino) mengaku dibayar komunitas untuk memakai almamater Universitas Dian Nusantara.
Respons Institusional dan Langkah Lanjutan
Selain menangani dugaan mahasiswa bayaran, Polda Metro Jaya juga meminta maaf atas polemik pemberitaan yang beredar terkait deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026. Budi Hermanto menyatakan bahwa pihak kepolisian menerima kritik dengan lapang dada untuk evaluasi. Ia juga mengonfirmasi kehadiran Raffi Ahmad dan Willie Salim yang hadir atas undangan penyelenggara dengan niat baik memaknai Sumpah Pemuda. Hasil investigasi komprehensif akan disampaikan segera setelah proses pendalaman selesai, dan pihak yang terbukti bertanggung jawab atas dugaan penggunaan mahasiswa bayaran tersebut dipastikan akan dikenai sanksi tegas.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Rudianto Lallo: Kasus Penyadapan Presiden Butuh Dimensi Keamanan Negara, Bukan Sekadar KUHP

Viral Koptu TNI Kenakan Seragam Jenderal di Bandara Juanda, Diduga Alami Gangguan Kejiwaan

Koptu MT Diduga Gangguan Mental, Nyamar Jenderal Bintang Empat di Bandara Juanda
