OJK Rekam Pertumbuhan Kredit Perbankan 13,26 Persen, Didorong Lonjakan Investasi dan Korporasi
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) mencatatkan pencapaian signifikan dalam intermediasi perbankan, dengan total penyaluran kredit mencapai Rp9.245,1 triliun pada September 2026.
- Angka ini tumbuh 13,26 persen secara tahunan, menunjukkan bahwa fungsi perbankan masih berfungsi positif di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan geopolitik yang kompleks.
- Ketangguhan ini didukung oleh profil risiko industri yang tetap terjaga, menandakan kepercayaan sistem keuangan dalam menopang pertumbuhan ekonomi domestik.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan pencapaian signifikan dalam intermediasi perbankan, dengan total penyaluran kredit mencapai Rp9.245,1 triliun pada September 2026. Angka ini tumbuh 13,26 persen secara tahunan, menunjukkan bahwa fungsi perbankan masih berfungsi positif di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan geopolitik yang kompleks. Ketangguhan ini didukung oleh profil risiko industri yang tetap terjaga, menandakan kepercayaan sistem keuangan dalam menopang pertumbuhan ekonomi domestik. Seperti yang diingatkan oleh ekonom CORE terkait ancaman penyusutan surplus dagang terhadap stabilitas ekonomi, ketahanan perbankan menjadi penopang vital.
Dorongan Kuat dari Kredit Investasi dan Korporasi
Pertumbuhan kredit ini didorong secara substansial oleh segmen produktif, bukan sekadar konsumsi. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan dalam paparan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kompleks Bank Indonesia pada Selasa (3/11), bahwa kredit investasi tumbuh 23,2 persen dan kredit korporasi naik 21,31 persen. Kedua komponen ini menjadi motor penggerak utama di balik total pertumbuhan kredit yang melampaui rata-rata. Selain itu, komponen lain juga memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan penyaluran kredit:
- Kredit modal kerja tumbuh 11,89 persen secara tahunan.
- Kredit konsumsi meningkat lebih moderat sebesar 4,86 persen.
Secara kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross tetap terkendali di level 2,07 persen, sementara NPL net berada di 0,82 persen. Rasio loan at risk (LAR) juga tercatat stabil di 8,5 persen, mengindikasikan bahwa kualitas kredit tetap sehat meskipun volume penyaluran meningkat signifikan.
Likuiditas dan Permodalan Perbankan Tetap Tangguh
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) perbankan mencapai Rp10.492,2 triliun atau tumbuh 8,22 persen secara tahunan. Peningkatan ini ditopang oleh lonjakan giro sebesar 12,64 persen, tabungan naik 9,08 persen, dan deposito tumbuh 3,78 persen. Meskipun pertumbuhan DPK lebih rendah daripada pertumbuhan kredit, OJK menilai keseimbangan ini masih dalam koridor yang sehat. Dari aspek ketahanan industri, permodalan perbankan terkonfirmasi kuat dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai 24,3 persen. Indikator likuiditas juga menunjukkan kondisi yang memadai, ditandai oleh loan to deposit ratio (LDR) sebesar 88,11 persen, rasio aset likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) di level 105,73 persen, serta rasio aset likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 24,08 persen. OJK menegaskan bahwa seluruh indikator tersebut membuktikan ketahanan industri perbankan domestik tetap solid di tengah gejolak pasar global, sejalan dengan kondisi IHSG yang melemah akibat tekanan asing.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Dampak Reklasifikasi MSCI: Saham PGE Tertekan, Namun Fundamental Bisnis Geothermal Tetap Kokoh

Laba Bersih SeaBank Capai Rp1,11 Triliun, Basis Nasabah Tembus 39 Juta Orang

Bahlil Lahadalia Targetkan Pembangunan Storage Nasional untuk Tampung Cadangan Energi 90 Hari
