IHSG Melemah 3,78% ke 4.904 Akibat Tekanan Asing, Berikut Analisis & Rekomendasi Saham
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- IHSG kembali mencatatkan koreksi signifikan pada perdagangan Selasa (3/11) dengan ditutup turun 3,78% ke posisi 4.904,29.
- Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang masif, di mana nilai net sell asing mencapai Rp759,98 miliar di pasar reguler.
- Di tengah sentimen negatif tersebut, tidak ada satu pun sektor saham yang mampu bertahan di zona hijau, dengan koreksi paling dalam terjadi pada sektor Basic Industry sebesar 6%.
IHSG kembali mencatatkan koreksi signifikan pada perdagangan Selasa (3/11) dengan ditutup turun 3,78% ke posisi 4.904,29. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang masif, di mana nilai net sell asing mencapai Rp759,98 miliar di pasar reguler. Di tengah sentimen negatif tersebut, tidak ada satu pun sektor saham yang mampu bertahan di zona hijau, dengan koreksi paling dalam terjadi pada sektor Basic Industry sebesar 6%. Tekanan ini diperburuk oleh kekhawatiran potensi penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Pada sesi perdagangan yang sama, beberapa emiten masih menunjukkan ketahanan. MKNT memimpin penguatan dengan melonjak 28,57%, disusul MAPI naik 2,89% dan CDIA menguat 2,30%. Sebaliknya, saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip mengalami koreksi dalam, mulai dari BBRI turun 5,67%, BBCA melemah 2,81%, hingga AMMN yang terkoreksi 6,79%. Sementara itu, bursa Amerika Serikat menunjukkan pergerakan bervariasi di mana Dow Jones turun 0,38%, namun S&P 500 dan Nasdaq justru menguat.
Prospek Bisnis ADMR & SILO dan Kebijakan Dividen IFII
Di balik pelemahan indeks, fundamental beberapa emiten terus mencatatkan kemajuan. ADMR mulai memasuki tahap komersialisasi bisnis aluminium, dengan mulai menjual hasil produksi smelter KAI pada kuartal III-2026. Langkah ini melengkapi kinerja 9M26 yang kuat, dengan pendapatan tumbuh 85,59% YoY menjadi USD 1.25bn dan laba bersih naik 55,51% YoY menjadi USD 317,53mn. Posisi persediaan ADMR melonjak menjadi USD 484,85mn, yang sebagian besar berasal dari aluminium dan telah terikat kontrak penjualan.
Sementara di sektor kesehatan, SILO mencatatkan pendapatan 9 bulan pertama 2026 sebesar Rp10,49 triliun (naik 11,31%) dan laba bersih Rp928,73 miliar (naik 21,98%). Peningkatan aset SILO menjadi Rp21,91 triliun didorong oleh penarikan pinjaman sindikasi sebesar Rp6,47 triliun dari BNI untuk membiayai akuisisi aset properti rumah sakit strategis. Di sisi lain, IFII menetapkan dividen interim kedua sebesar Rp5 per saham dengan total distribusi Rp47,06 miliar. Total rasio pembayaran dividen (DPR) IFII mencapai 59,30% jika digabungkan dengan dividen interim pertama, dengan tanggal cum dividen jatuh pada 11 November 2026.
Rekomendasi Saham & Langkah Lanjutan Investor
Bagi investor yang mencari peluang di tengah volatilitas pasar, analisis pasar memberikan sinyal tertentu untuk dua emiten. SMMT direkomendasikan untuk beli di rentang harga 2780-2800 dengan target harga 2850-2900 dan stop loss di 2650. MAPI juga direkomendasikan untuk beli di level 1230-1240, dengan target 1260-1270 dan stop loss 1180. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan pergerakan makroekonomi, khususnya dampak dari ketegangan geopolitik dan sentimen arus dana asing terhadap pasar modal domestik.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Laba Bersih SeaBank Capai Rp1,11 Triliun, Basis Nasabah Tembus 39 Juta Orang

Bahlil Lahadalia Targetkan Pembangunan Storage Nasional untuk Tampung Cadangan Energi 90 Hari

RANS Entertaintmen Ingkar Dugaan Bayar Warga di Carnival Jogja, Klaim Acara Tetap Gratis
