Ekonom CORE Ingatkan Ancaman Penyusutan Surplus Dagang terhadap Stabilitas Ekonomi
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengingatkan bahwa penyusutan signifikan surplus perdagangan nasional menjadi ancaman serius bagi ketahanan makroekonomi.
- Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), defisit transaksi berjalan yang membesar disebabkan oleh berkurangnya peran surplus barang dalam mengimbangi defisit pada komponen jasa dan pendapatan primer.
- Faisal menjelaskan bahwa kondisi ini turut memperlambat masuknya arus modal asing (capital inflow), yang secara langsung berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah.
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengingatkan bahwa penyusutan signifikan surplus perdagangan nasional menjadi ancaman serius bagi ketahanan makroekonomi. Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE, menyatakan bahwa melemahnya surplus ini dapat mengurangi penopang utama neraca transaksi berjalan, sehingga meningkatkan kerentanan stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), defisit transaksi berjalan yang membesar disebabkan oleh berkurangnya peran surplus barang dalam mengimbangi defisit pada komponen jasa dan pendapatan primer. Faisal menjelaskan bahwa kondisi ini turut memperlambat masuknya arus modal asing (capital inflow), yang secara langsung berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah.
Lonjakan Impor dan Pergeseran Struktur Perdagangan
Penyusutan surplus ini tercermin dari data BPS periode JanuariโSeptember 2026 yang mencatat surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS, anjlok tajam dibandingkan 33,48 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Fenomena ini terjadi karena nilai impor melonjak 19,67 persen secara tahunan menjadi 210,63 miliar dolar AS, jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya naik 5,58 persen menjadi 221,23 miliar dolar AS. Struktur impor didominasi oleh beberapa sektor kunci yang mengindikasikan peningkatan aktivitas industri:
- Bahan baku dan penolong: Menjadi komponen terbesar dengan nilai 150,57 miliar dolar AS.
- Barang modal: Mencatatkan nilai impor sebesar 41,55 miliar dolar AS.
- Barang konsumsi: Berjumlah 18,51 miliar dolar AS.
Perlu dicatat bahwa lonjakan impor pada sektor bahan baku dan barang modal sering kali mencerminkan pemulihan aktivitas produksi domestik, namun bukan tanpa risiko sistemik.
Implikasi Biaya Ekonomi dan Strategi Penguatan Ekspor
Mohammad Faisal menegaskan bahwa meski impor untuk produksi bersifat positif, tingginya impor energi dan bahan bakar (migas) akibat fluktuasi harga minyak dunia justru memberatkan biaya ekonomi, terutama bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai negara pengimpor bersih minyak. Untuk mengatasi tekanan eksternal ini, Faisal merekomendasikan tiga langkah strategis, yaitu penguatan fundamental ekspor, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, serta diversifikasi negara tujuan pasar ekspor. Langkah-langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keseimbangan neraca dan memastikan ketahanan eksternal perekonomian Indonesia ke depan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

China Perkuat Cadangan Emas Global Naik 103,26 Ton di 9 Bulan Pertama 2026

Ekonom CORE: Stabilitas Keuangan KSSK Harus Diterjemahkan Menjadi Perbaikan Ekonomi Riil

WIKA Catat Lonjakan Kontrak Baru 57,9% Jadi Rp9,78 Triliun, Fokus pada Proyek Infrastruktur Strategis
