Ratas Pendidikan Gratis Prabowo Libatkan Menkeu hingga Mendagri

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ratas Pendidikan Gratis Prabowo Libatkan Menkeu hingga Mendagri
BAGIKAN:

Presiden RI Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri Kabinet Merah Putih ke Istana Merdeka Jakarta, Rabu (23/9), untuk membahas rencana pendidikan gratis mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi negeri. Rapat terbatas ini melibatkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti. Kehadiran Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa kebijakan ini memerlukan koordinasi lintas sektor yang ketat.

Brian Yuliarto menyatakan bahwa inisiatif tersebut merupakan upaya pemerintah meningkatkan investasi di bidang pendidikan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan rapat kali ini difokuskan pada berbagai perhitungan guna menentukan skema yang paling sesuai dengan kondisi dan ruang fiskal negara. "Kami sedang lakukan hitungan-hitungan, makanya hari ini ada rapat untuk membicarakan skema-skema, tahapan-tahapan, dan lainnya," ujar Brian kepada wartawan setelah pertemuan berlangsung.

Pemerintah mempertimbangkan sejumlah opsi dalam penerapan pendidikan gratis di perguruan tinggi negeri. Opsi pertama adalah memberikan akses gratis bagi seluruh mahasiswa secara serentak. Alternatif kedua menerapkan kebijakan secara bertahap dengan memprioritaskan mahasiswa baru. Sementara opsi ketiga menentukan penerima bantuan berdasarkan kelompok desil tertentu sebagai bentuk penargetan yang lebih presisi terhadap kebutuhan ekonomi masyarakat.

"Ada beberapa hitungan-hitungan, bisa semua siswa, bisa PTN, kemudian bisa barangkali yang mahasiswa baru terlebih dulu, atau yang desil 4 dulu," jelas Brian mengenai variasi skenario yang tengah dikaji. Pernyataan ini menunjukkan kompleksitas teknis yang dihadapi tim ahli sebelum keputusan final diambil. Penentuan desil menjadi krusial karena berkaitan langsung dengan data kemiskinan nasional yang dikelola oleh Kementerian Sosial.

Meskipun wacana ini telah bergulir cepat sejak dicetuskan Presiden Prabowo, Brian belum dapat memastikan kapan kebijakan ini akan diimplementasikan secara penuh. "Sesegera mungkin, kami rapat dulu," katanya singkat namun tegas. Sikap hati-hati ini wajar mengingat besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk menanggung biaya operasional institusi pendidikan negeri dari tingkat dasar hingga universitas tanpa pungutan tambahan dari peserta didik maupun orang tua.

Wacana biaya pendidikan gratis sejak SD-universitas mencuat usai Prabowo mencanangkan hal itu dalam pidatonya di Malam Puncak HUT PAN ke-28 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Jumat (18/9). Saat itu, Prabowo secara eksplisit menyatakan niatnya untuk menggelar rapat terbatas membahas biaya pendidikan negeri gratis untuk seluruh jenjang pendidikan. "Saya akan mengadakan ratas atau pokoknya biaya pendidikan gratis," ucap Prabowo kala itu, memicu respons positif sekaligus pertanyaan besar dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan tentang keberlanjutan anggarannya.

Analisis Redaksi

Rapat terbatas ini menandai pergeseran fokus pemerintahan Prabowo dari retorika politik menuju eksekusi teknokratis yang rumit. Keterlibatan Menteri Keuangan Suahasil Nazara bukan sekadar formalitas, melainkan sinyal kuat bahwa aspek fiskal menjadi hambatan utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Tanpa kejelasan sumber dana yang stabil dan berkelanjutan, janji pendidikan gratis berisiko menjadi beban APBN yang tidak proporsional atau justru mengorbankan pos belanja produktif lainnya. Publik perlu waspada jika skema yang dipilih hanya bersifat parsial atau ditunda terus-menerus dengan alasan kalkulasi anggaran.

Kemungkinan langkah selanjutnya adalah pembentukan gugus tugas khusus yang melibatkan Kemenkeu, Kemendiktisaintek, dan Bappenas untuk memodelkan dampak jangka panjang setiap opsi. Jika pemerintah memilih jalur bertahap berbasis desil, maka akurasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi taruhannya. Ketidaksesuaian data bisa menyebabkan salah sasaran, di mana subsidi mengalir ke kelompok mampu sementara mahasiswa miskin tetap terpinggirkan. Oleh karena itu, transparansi mekanisme seleksi dan audit berkala mutlak diperlukan agar kepercayaan publik terhadap komitmen pendidikan gratis ini tidak luntur sebelum sempat dinikmati manfaatnya secara merata.

Meow! Tanya Nesi!
😸