Jusuf Kalla Bertolak ke Ankara, Bahas Solusi Krisis Timur Tengah dan Isu Kurdi
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Indonesia, Jusuf Kalla (JK) , bertolak dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Sabtu (7/11/2026), menuju Ankara, Tรผrkiye.
- Kunjungan ini bertujuan untuk menghadiri forum internasional strategis yang membahas upaya penyelesaian konflik dan krisis di kawasan Timur Tengah.
- Dalam agenda tersebut, JK dijadwalkan menjadi salah satu pembicara utama dalam forum bertajuk "In Search of a New Regional Social Contract in the Middle East" yang berlangsung pada 8โ9 November 2026.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Indonesia, Jusuf Kalla (JK), bertolak dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Sabtu (7/11/2026), menuju Ankara, Tรผrkiye. Kunjungan ini bertujuan untuk menghadiri forum internasional strategis yang membahas upaya penyelesaian konflik dan krisis di kawasan Timur Tengah. Dalam agenda tersebut, JK dijadwalkan menjadi salah satu pembicara utama dalam forum bertajuk "In Search of a New Regional Social Contract in the Middle East" yang berlangsung pada 8โ9 November 2026.
Fokus Pembahasan: Konflik Kurdi dan Stabilitas Kawasan
Dalam keterangan pers menjelang keberangkatannya, JK mengungkapkan bahwa dirinya diminta memberikan pandangan serta masukan terkait penyelesaian sejumlah persoalan krusial di Timur Tengah. Topik utama yang akan dibahas meliputi konflik yang melibatkan bangsa Kurdi di wilayah Tรผrkiye serta berbagai krisis global lainnya. "Saya diminta untuk memberikan saran dalam suatu pertemuan besar, bagaimana mengatasi persoalan suku Kurdi atau bangsa Kurdi yang ada di Tรผrkiye dan sebagainya, serta bagaimana memberikan solusi krisis Timur Tengah yang kita atasi secara bersama-sama, khususnya bagi negara-negara Islam," ujar JK.
Kolaborasi ORSAM dan Universitas Oxford
Forum internasional ini diselenggarakan atas undangan Pusat Studi Timur Tengah (ORSAM) bekerja sama dengan Global Orders Programme di bawah naungan Global History Center Universitas Oxford. Kehadiran JK menegaskan peran aktif Indonesia dalam diplomasi perdamaian global, terutama dalam menawarkan solusi kolektif bagi negara-negara Islam menghadapi ketidakstabilan geopolitik. JK menekankan pentingnya kolaborasi lintas batas dalam mencari jalan keluar atas berbagai krisis yang menghambat stabilitas sosial dan politik di kawasan Timur Tengah saat ini.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Krisna Bayu Kritik Sistem SEA Games 2027: Reformasi Mendesak untuk Menjaga Keadilan Olahraga

Di Tengah Badai Flu, Gol Istimewa Ivan Mamut Jadi Pembeda Persija vs Persebaya

Fusi Budaya Sunda-Betawi dan Teknologi Canggih Tandai Pembukaan Porprov XV Jawa Barat 2026
