Erdogan: Sistem Keamanan Internasional Runtuh, PBB Dinilai Gagal Hadapi Krisis Global
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan secara tegas menyatakan bahwa sistem keamanan internasional yang telah berdiri selama 81 tahun kini dianggap runtuh.
- Pernyataan ini disampaikan dalam ForumTRT World di Istanbul pada Jumat (6/11), menyoroti kegagalan institusi global dalam menangani krisis kemanusiaan dan geopolitik terkini.
- Menurut Erdogan, dunia sedang berada dalam masa transisi yang menyakitkan, di mana nilai-nilai lama kehilangan pijakan sementara tatanan baru belum terbentuk.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan secara tegas menyatakan bahwa sistem keamanan internasional yang telah berdiri selama 81 tahun kini dianggap runtuh. Pernyataan ini disampaikan dalam ForumTRT World di Istanbul pada Jumat (6/11), menyoroti kegagalan institusi global dalam menangani krisis kemanusiaan dan geopolitik terkini. Menurut Erdogan, dunia sedang berada dalam masa transisi yang menyakitkan, di mana nilai-nilai lama kehilangan pijakan sementara tatanan baru belum terbentuk. Hal ini sejalan dengan gagasan revolusioner Menlu Qatar yang mengusulkan pembentukan blok baru untuk meningkatkan kemampuan tawar negara-negara berkembang dalam dinamika global.
Krisis Gaza dan Ketegangan AS-Iran sebagai Bukti Kegagalan
Erdogan mengidentifikasi dua titik panas utama sebagai bukti nyata keruntuhan sistem tersebut, yakni krisis berkepanjangan di Jalur Gaza serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menggambarkan kondisi Gaza yang hancur menjadi puing-puing, dengan jutaan warga sipil berjuang bertahan hidup di tengah kelaparan dan keterbatasan akses bantuan kemanusiaan. "Ketika kekerasan dan ketidakadilan menjadi hal yang lumrah, semakin sedikit pihak yang mendukung perdamaian," ujar Erdogan, menekankan penderitaan manusia akibat stagnasi respons internasional. Ketidakstabilan ini juga menambah beban negara-negara lain, seperti yang terlihat dalam tekanan ekonomi yang meningkat di berbagai belahan dunia, di mana hampir 30 persen warga Kanada dilaporkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar di tahun 2026.
Tuntutan Reformasi Struktur PBB dan Penghapusan Hak Veto
Dalam konteks kritik terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Erdogan menilai struktur pasca-Perang Dunia II tidak lagi relevan dengan realitas geopolitik modern. Ankara mengusulkan langkah-langkah reformasi konkret untuk memperbaiki tata kelola global:
- Penghapusan hak veto yang dimiliki oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yang dinilai menghambat partisipasi negara lain dalam pengambilan keputusan.
- Penguatan kewenangan Majelis Umum PBB agar lebih representatif.
- Penerapan sistem pemilihan berkala untuk negara-negara anggota Dewan Keamanan guna memastikan akuntabilitas.
Erdogan menutup pidatonya dengan seruan bahwa 'dunia lama sedang sekarat', mendesak komunitas internasional untuk segera merombak arsitektur keamanan global demi mencegah konflik serupa di masa depan.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Klaim Hegemonik Trump: AS Kuasai Selat Hormuz dan Pasokan Minyak Rekor

Tekanan Finansial Bersejarah UNRWA: Guterres Dorong Pendanaan Penuh, Defisit US$80 Jadi Ancaman Nyata

Gagasan Revolusioner Menlu Qatar: Membentuk Blok 'Negara-Negara Berkembang Pesat' untuk Mampu Tawar Global
