Warga London Abai Imbauan Siaga Darurat Pemerintah Inggris
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Pemerintah Inggris melalui kampanye 'Be Ready' mendesak masyarakat untuk menyiapkan persediaan pangan, air, dan kebutuhan pokok guna menghadapi potensi keadaan darurat.
- Namun, data terbaru mengungkapkan ironi di mana warga London justru menjadi kelompok paling tidak siap, sementara penduduk Skotlandia menunjukkan tingkat kepatuhan tertinggi terhadap imbauan tersebut.
- Kampanye ini bertujuan memastikan setiap rumah tangga memiliki cadangan untuk bertahan selama tiga hari dalam skenario risiko mulai dari kelangkaan pangan, pemadaman listrik, banjir, hingga serangan siber.
Pemerintah Inggris melalui kampanye 'Be Ready' mendesak masyarakat untuk menyiapkan persediaan pangan, air, dan kebutuhan pokok guna menghadapi potensi keadaan darurat. Namun, data terbaru mengungkapkan ironi di mana warga London justru menjadi kelompok paling tidak siap, sementara penduduk Skotlandia menunjukkan tingkat kepatuhan tertinggi terhadap imbauan tersebut.
Kampanye ini bertujuan memastikan setiap rumah tangga memiliki cadangan untuk bertahan selama tiga hari dalam skenario risiko mulai dari kelangkaan pangan, pemadaman listrik, banjir, hingga serangan siber. Berdasarkan survei H Advisors, 33% penduduk London mengaku belum melakukan persiapan apa pun. Ketidakpedulian ini kontras dengan wilayah lain yang lebih proaktif menindaklanjuti arahan pemerintah pusat.
Rincian Data Kesiapsiagaan Regional
Tingkat kesiapan yang rendah di London diikuti oleh wilayah North West dengan 30% penduduk tanpa persiapan, serta Yorkshire and the Humber dan South West yang masing-masing mencatat angka 29%. Sebaliknya, Skotlandia menonjol sebagai wilayah paling siaga dengan hanya 16% penduduk yang belum bersiap. Lebih dari separuh warga Skotlandia telah menyimpan makanan kaleng dan perangkat bertenaga baterai seperti senter. Rincian kepemilikan alat bantu di London juga memprihatinkan:
- Makanan kaleng: Hanya dimiliki oleh 37% rumah tangga.
- Radio analog: Kepemilikan sangat minim, yakni 9%.
- Kompor portabel: Dimiliki oleh 16% penduduk.
Dampak Ekonomi dan Respons Kebijakan
Graham Mott, direktur strategi jaringan ATM LINK, menyatakan bahwa kampanye 'Be Ready' telah memicu respons nyata berupa peningkatan penarikan uang tunai untuk mengantisipasi gangguan sistem pembayaran. Pada Jumat lalu, rata-rata penarikan di ATM mencapai rekor ยฃ106,20 atau sekitar Rp2,57 juta. Menteri Pertahanan Wes Streeting menyerukan pendekatan kolaboratif lintas lapisan masyarakat untuk memperkuat ketahanan nasional tanpa menimbulkan kepanikan. Mott juga merujuk pada praktik negara Nordik dan Belanda yang telah lama mengedukasi warganya terkait mitigasi krisis digital dan fisik.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Warisan Sastra PDS HB Jassin Resmi Dinobatkan sebagai Memori Dunia Asia-Pasifik

Ahmad Doli Bantah Keterlibatan dalam Flyer Munaslub, Sindir 'Komprador' Internal Golkar

KPK Geledah Kantor Pertanahan Bogor I, Dalami Jejak Aliran Dana Suap ke 8 Tersangka
