Spekulasi Negara Asing di Balik Serangan Siber Kulkas Supermarket Eropa, Pakar: Ancaman AI Makin Serius

- Insiden serangan siber yang menargetkan kulkas dan freezer di sejumlah supermarket Eropa memicu spekulasi kuat mengenai keterlibatan kelompok yang didukung negara.
- Awalnya, Rybczynska menduga pelaku adalah sekelompok anak muda, namun keyakinan tersebut berubah setelah mengamati pola serangan terbaru.
- "Setelah serangan di Prancis, saya sempat mengira pelakunya adalah sekelompok anak muda, namun dengan kasus terakhir ini kemungkinannya (keterlibatan negara) menjadi jauh lebih besar," imbuhnya.
Insiden serangan siber yang menargetkan kulkas dan freezer di sejumlah supermarket Eropa memicu spekulasi kuat mengenai keterlibatan kelompok yang didukung negara. Marta Rybczynska, pakar keamanan siber dari perusahaan Ygreky, mengungkapkan bahwa perangkat pendingin tersebut menjadi sasaran empuk karena mudahnya akses serangan dan ketersediaan petunjuk teknis di internet. "Penyelidik bungkam soal hasil investigasi saat ini di Prancis, tetapi melalui proses eliminasi, kemungkinan besar ada kelompok yang didukung oleh negara di balik ini semua," ujar Rybczynska, dikutip dari Euronews.
Awalnya, Rybczynska menduga pelaku adalah sekelompok anak muda, namun keyakinan tersebut berubah setelah mengamati pola serangan terbaru. "Setelah serangan di Prancis, saya sempat mengira pelakunya adalah sekelompok anak muda, namun dengan kasus terakhir ini kemungkinannya (keterlibatan negara) menjadi jauh lebih besar," imbuhnya. Hingga saat ini, belum ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab, meskipun otoritas Prancis meyakini serangan pada 12 Oktober melibatkan aktor dari luar negeri.
Kelengahan Keamanan pada Perangkat Keras Kuno
Pavlina Pavlova, pendiri organisasi nirlaba Critical Cyber, menjelaskan bahwa kerentanan utama terletak pada penggunaan sistem lama yang tidak lagi diprioritaskan atau bahkan tidak memungkinkan untuk diperbarui melalui patch keamanan. Banyak alat pengontrol yang diserang merupakan model lama yang kelemahannya sudah diketahui sejak 2025. Pavlova merangkum tiga alasan mengapa perangkat ini menjadi incaran peretas:
- Perangkat mudah dijangkau secara digital.
- Menarik untuk diserang sebagai target simbolis.
- Perangkat keras sangat rapuh terhadap eksploitasi.
Ia memperingatkan bahwa di era kecerdasan buatan, ancaman ini akan meningkat karena AI mempermudah pelaksanaan serangan canggih dan mengotomatiskan eksploitasi pada skala serta kecepatan yang tidak dapat ditandingi manusia.
Dampak Insiden dan Kebutuhan Mendesak Perlindungan
Serangan terbaru pada 2 November menjangkau supermarket di Belgia, Luksemburg, Estonia, Belanda, Irlaindia, dan Swedia, menyusul insiden besar di Prancis beberapa minggu sebelumnya yang menyebabkan suhu freezer melonjak hingga 50 derajat Celsius. Rybczynska mengkritik kelengahan toko-toko yang tidak meningkatkan perlindungan pasca-serangan pertama karena mereka belum menyadari bahwa sistem operasional mereka berpotensi menjadi target. "Masalah besar yang saya lihat adalah toko-toko tidak menganggap diri mereka sebagai target potensial. Menurut saya, ada kebutuhan mendesak untuk mulai melindungi layanan-layanan yang selama ini dianggap tidak cukup penting," tutur Rybczynska.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meta Resmi Luncurkan Video Call Muse AI untuk Semua Pengguna AS, Lengkapi Avatar Jolly dengan Ekspresi Waktu Nyata

Urgensi Dampak Sosial-Ekonomi: Komdigi Tetapkan Takedown Konten Judi Online Maksimal 4 Jam

Serangan Siber Massal Ganggu Rantai Pasokan Pangan Eropa, Kulkas Supermelon Naik Hingga 50 Derajat
