Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Binance Ungkap Modus Hacker Curi US$6,3 Miliar: Wawancara Palsu, Malware, dan AI Internal

TeknologiFitriani NingsihFitriani NingsihSumber: CNN Teknologi
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Binance Ungkap Modus Hacker Curi US$6,3 Miliar: Wawancara Palsu, Malware, dan AI Internal
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Binance , bursa mata uang kripto terbesar di dunia, akhirnya mengungkap modus operandi di balik pencurian aset kripto senilai US$6,34 miliar (sekitar Rp114 triliun) dari hot wallet mereka.
  • Peretasan ini bukan sekadar serangan teknis biasa, melainkan kombinasi rumit antara rekayasa sosial, malware, dan penyalahgunaan alat berbasis kecerdasan buatan (AI) internal perusahaan.
  • Insiden ini menjadi salah satu kebocoran data kripto terbesar dalam sejarah industri, memicu kekhawatiran global terkait keamanan infrastruktur dompet digital.

Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, akhirnya mengungkap modus operandi di balik pencurian aset kripto senilai US$6,34 miliar (sekitar Rp114 triliun) dari hot wallet mereka. Peretasan ini bukan sekadar serangan teknis biasa, melainkan kombinasi rumit antara rekayasa sosial, malware, dan penyalahgunaan alat berbasis kecerdasan buatan (AI) internal perusahaan. Insiden ini menjadi salah satu kebocoran data kripto terbesar dalam sejarah industri, memicu kekhawatiran global terkait keamanan infrastruktur dompet digital.

Kronologi serangan dimulai pada musim panas 2026, ketika seorang teknisi tanpa sengaja mengunduh malware yang mengekspos identitas dirinya dan anggota tim pengelola infrastruktur dompet kripto. Pada September, pelaku memperluas akses dengan memalsukan identitas sebagai direktur proyek di platform rekrutmen legal. Mereka menyamar sebagai staf HR dalam wawancara video tahap pertama, lalu berpura-pura menjadi CEO perusahaan fiktif dalam wawancara kedua melalui aplikasi percakapan. Tipuan ini berhasil membuat teknisi lain mengunduh malware ke komputernya, membuka jalan bagi pelaku untuk menyusup lebih dalam ke sistem internal Binance.

Mekanisme Eksploitasi Sistem dan Penyalahgunaan AI Internal

Puncak serangan terjadi pada 20 Oktober 2026, ketika pelaku menggunakan komputer yang telah disusupi serta memanfaatkan alat AI internal Binance untuk mengambil alih kendali sistem milik teknisi tersebut dan seorang pengembang dompet digital lainnya. Dengan kredensial yang dicuri dari teknisi pertama, pelaku berhasil mengakses komputer pengembang kedua dan menjalankan skrip berbahaya pada 29 Oktober 2026. Skrip inilah yang memungkinkan pengurasan masif dari dompet digital yang terhubung ke internet. Binance menegaskan bahwa kejadian ini merupakan kegagalan keamanan yang seharusnya tidak terjadi, dan mereka menyampaikan permintaan maaf resmi atas gangguan serta ketidakpastian yang ditimbulkan bagi pengguna, mitra, dan industri secara luas.

Tuduhan FBI terhadap Korea Utara dan Respons Resmi Pyongyang

FBI menuduh Korea Utara sebagai dalang di balik peretasan ini, mengingat penggunaan wawancara kerja dengan teknologi deepfake merupakan metode siber yang dikenal dari negara tersebut. Namun, pemerintah Korea Utara melalui Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Kim Jong-un, membantah keras tuduhan tersebut. Kim menyebut klaim FBI sebagai "retorika yang tidak masuk akal" dan "provokasi politik serius" yang bertujuan mencap DPRK sebagai negara pelaku kejahatan siber. Ia menegaskan bahwa Washington menyesatkan opini publik internasional dengan mengaitkan seluruh kejahatan siber global dengan Pyongyang. Kasus ini kini menjadi sorotan diplomatik dan keamanan siber internasional, di mana transparansi forensik digital menjadi kunci untuk mengungkap aktor sebenarnya di balik kerugian triliunan rupiah tersebut.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ