Pramono Anung Tetapkan Deadlines 3 Bulan untuk Selesaikan JLNT Muara Karang yang Mangkrak Sejak 2015
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo resmi mengambil alih komando penyelesaian proyek Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Muara Karang di Jakarta Utara.
- Ia menetapkan batas waktu maksimal tiga bulan untuk memfinalisasi infrastruktur yang telah terbengkalai sejak era Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada tahun 2015.
- Keputusan strategis ini diumumkan Pramono usai rapat koordinasi di Kecamatan Penjaringan, Jumat, dengan tujuan utama untuk merampungkan proyek vital tersebut di sisa masa kepemimpinannya.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo resmi mengambil alih komando penyelesaian proyek Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Muara Karang di Jakarta Utara. Ia menetapkan batas waktu maksimal tiga bulan untuk memfinalisasi infrastruktur yang telah terbengkalai sejak era Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada tahun 2015. Keputusan strategis ini diumumkan Pramono usai rapat koordinasi di Kecamatan Penjaringan, Jumat, dengan tujuan utama untuk merampungkan proyek vital tersebut di sisa masa kepemimpinannya.
Menurut Pramono, alasan utama mangkraknya pembangunan JLNT Muara Karang selama lebih dari satu dekade adalah terputusnya rantai komunikasi dan hilangnya rasa kepercayaan (trust) antar-perwujud kebijakan. Ia menegaskan bahwa tidak ada gubernur yang secara khusus menginstruksikan penerusannya, sehingga proyek ini tertinggal di antara masa jabatan ke masa jabatan lainnya. Pramono menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan 'warisan' infrastruktur yang belum tuntas agar tidak menjadi beban teknis berkepanjangan bagi pemerintah kota.
Perubahan Struktur Komando untuk Mengatasi Kebuntuan Komunikasi
Untuk mematahkan kebuntuan birokratis yang ada, Pramono memutasi kepemimpunan proyek dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait ke level asisten gubernur secara langsung. Ia menunjuk Afan Adriansyah Idris, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta, sebagai pemimpin proyek. "Ruang diskusinya dibuka, dialognya dibuka, dan alhamdulillah ada titik temu," jelas Pramono. Langkah ini diambil karena dinamika komunikasi di tingkat OPD dinilai tidak lagi efektif untuk memecahkan masalah internal yang telah mengakar.
Dengan perubahan struktur komando ini, Pramono berharap tercipta transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi. Ia menekankan bahwa penyelesaian JLNT Muara Karang bukan hanya soal membangun fisik jalan, tetapi juga soal memperbaiki tata kelola antarlembaga agar proyek serupa tidak kembali mangkrak di kemudian hari. Penunjukan asisten setda sebagai koordinator tertinggi menunjukkan bahwa Gubernur melihat ini sebagai isu strategis yang memerlukan pengawalan harian.
Dampak Jangka Panjang terhadap Jaringan Jalan dan Arus Lalu Lintas
Selesai dibangunnya JLNT Muara Karang diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap peredaan kemacetan di kawasan pesisir utara Jakarta. Lokasi strategis proyek ini menghubungkan arus lalu lintas lokal dengan arteri utama, sehingga keberadaannya krusial untuk mobilitas warga. Tanpa penyelesaiannya, kawasan Muara Karang akan terus mengalami stagnasi infrastruktur yang membatasi pertumbuhan ekonomi lokal dan aksesibilitas publik.
Keberhasilan pengawalan proyek ini menjadi tolok ukur komitmen Pramono dalam mentransformasi sektor infrastruktur DKI Jakarta. Dengan target waktu tiga bulan, jajaran Asisten Pembangunan harus bekerja dalam mode percepatan, memastikan seluruh regulasi teknis, anggaran, dan lapangan tersedia tanpa hambatan. Masyarakat Jakarta menantikan realisasi janji ini, yang sekaligus menjadi penanda akhir dari siklus proyek gagal era 2015. Keberhasilan penyelesaian JLNT Muara Karang akan menjadi preseden positif bagi pengelolaan proyek pemerintah daerah lainnya yang sedang berjalan.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

ITS dan PLN Gelar PLN ICE 2026: Wadah Inovasi Mahasiswa untuk Transisi Energi Nasional

Kemenhaj Dukung Aksi Tegas Arab Saudi Berantas Makelar Ilegal dalam Pengadaan Haji

Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal: Validasi 70 Ribu Anak Tidak Sekolah Jadi Kunci Penuntasan Krisis Pendidikan
