Menjaga Ruang Baca Anak di Tengah Banjir Layar: Rano Karno Soroti Krisis Penulis Cerita Anak
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- Di tengah dominasi gawai yang kian merajai ruang publik, Perpustakaan Jakarta di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, masih mempertahankan pemandangan langka: anak-anak yang tenggelam dalam dunia buku.
- Di sudut perpustakaan, buku anak tertata rapi layaknya toko buku, sementara area membaca menyediakan berbagai pilihan mulai dari sofa empuk hingga lesehan.
- Kontras ini semakin tajam dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa 42,25 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler pada tahun 2025.
Di tengah dominasi gawai yang kian merajai ruang publik, Perpustakaan Jakarta di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, masih mempertahankan pemandangan langka: anak-anak yang tenggelam dalam dunia buku. Di sudut perpustakaan, buku anak tertata rapi layaknya toko buku, sementara area membaca menyediakan berbagai pilihan mulai dari sofa empuk hingga lesehan. Seorang ibu terlihat membacakan cerita tentang 'Rusa tak hilang akal' kepada anak laki-lakinya yang masih bersekolah di tingkat TK, menciptakan suasana yang kontras dengan realitas di luar gedung tempat anak-anak kerap terpaku pada layar ponsel.
Kontras ini semakin tajam dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa 42,25 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler pada tahun 2025. Angka ini baru memotret kelompok usia nol hingga enam tahun, sementara kelompok usia yang lebih besar tentu memiliki keterikatan yang lebih kuat terhadap teknologi digital. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan hilangnya kebiasaan membaca fisik di kalangan generasi muda.
Krisis Penulis dan Potensi Cerita Anak
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyoroti permasalahan ini saat menghadiri peringatan 130 tahun sastrawan Aman Datuk Madjoindo. Ia menyatakan bahwa Indonesia sedang kehilangan banyak penulis cerita anak di saat anak-anak berada pada fase yang rawan terhadap penyalahgunaan teknologi. Rano mengenang bagaimana buku Si Doel Anak Betawi terbitan 1932 yang ditemukannya di tumpukan paling bawah Balai Pustaka saat berusia sekitar delapan tahun, kelak mengantarkannya ke layar perak, sinetron, hingga kursi wakil gubernur. Riwayat ini memperlihatkan betapa panjang dampak sebuah cerita anak bagi kehidupan pembacanya.
Ironinya, bacaan anak jarang terseret arus viral seperti bacaan remaja dan dewasa muda. Generasi yang beranjak dewasa pada dasawarsa pertama 2000-an masih ingat bagaimana buku-buku seperti Dealova, karya Raditya Dika, Laskar Pelangi, atau Ayat-Ayat Cinta menjadi buah bibir dan tren sosial. Buku-buku tersebut berpindah tangan, diperbincangkan di kelas, dan bahkan mendorong penonton kembali ke toko buku setelah diadaptasi ke layar lebar. Namun, cerita anak kini kian sulit menemukan jalan ke tangan pembacanya yang paling belia.
Upaya Viralisasi dan Harapan Masa Depan
Di era kini, upaya membuat buku anak menjadi viral memerlukan strategi khusus. Salah satu contoh sukses adalah Na Willa, karya Reda Gaudiamo yang pertama kali terbit pada 2012. Buku ini baru menjadi terkenal luas setelah dialihwahanakan ke layar lebar oleh sutradara Ryan Adriandhy dan tayang pada musim Lebaran 2026. Kisah gadis cilik di sebuah gang di Surabaya era 1960-an tersebut berhasil menembus satu juta penonton, membuktikan bahwa cerita anak tetap memiliki daya tarik besar jika dikemas dengan tepat.
Kasus Na Willa menunjukkan bahwa kolaborasi antara penerbitan buku dan industri film dapat menjadi jembatan bagi cerita anak untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya literasi sejak dini, diharapkan lebih banyak penulis dan pembuat film yang tertarik mengangkat cerita anak, sehingga dapat menyaingi daya tarik gawai dan menjaga minat baca generasi penerus tetap hidup di tengah arus digitalisasi.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Prestasi Bersejarah Perpusnas: Dua Naskah Nusantara Resmi Diakui UNESCO sebagai Ingatan Dunia

BP MPR Dalami Desain Desentralisasi Asimetris dan Mekanisme Hibrida Pemilihan Kepala Daerah

BGN Tegaskan Tak Ada Kewajiban SPPG Pangkas Relawan MBG, Cukup Sesuaikan Biaya Operasional
