Harga Minyak Global Menguat ke US$99 Pasca Eskalasi Serangan di Selat Hormuz
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Arus perdagangan global kembali diuji stabilitasnya dengan menguatnya harga minyak mentah dunia mendekati level psikologis US$100 per barel.
- Dinamika pasar ini berbanding terbalik dengan sentimen pada Rabu (4/11) lalu, ketika harga minyak sempat anjlok hingga 8 persen ke level terendah dua bulan.
- Namun, optimisme tersebut dengan cepat terhapus oleh fakta di lapangan yang menunjukkan lonjakan serangan terhadap kapal-kapal tanker pada Rabu dan Kamis (5/11).
Arus perdagangan global kembali diuji stabilitasnya dengan menguatnya harga minyak mentah dunia mendekati level psikologis US$100 per barel. Pada perdagangan awal Jumat (6/11), harga Brent melonjak US$1,57 atau 1,6 persen menjadi US$99,86 per barel, didorong oleh eskalasi ketegahan keamanan maritim di Selat Hormuz yang mengabaikan ekspektasi deeskalasi konflik pasca-pemilu Amerika Serikat.
Dinamika pasar ini berbanding terbalik dengan sentimen pada Rabu (4/11) lalu, ketika harga minyak sempat anjlok hingga 8 persen ke level terendah dua bulan. Saat itu, pasar optimistis kemenangan Partai Demokrat dalam merebut kendali Senat dan DPR dari Partai Republik akan memicu meredanya konflik berkepanjangan antara AS, Israel, dan Iran yang telah memasuki bulan kesembilan. Namun, optimisme tersebut dengan cepat terhapus oleh fakta di lapangan yang menunjukkan lonjakan serangan terhadap kapal-kapal tanker pada Rabu dan Kamis (5/11).
Eskalasi Serangan Militer dan Peringatan Kapasitas Aliran Minyak
Merespons eskalasi tersebut, Daniel Hynes, Ahli Strategi Komoditas Senior ANZ, menilai aksi jual (selloff) pada Rabu lalu sebenarnya berlebihan. Hynes menegaskan bahwa realitas geopolitik tetap mendominasi, mengingat Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan kecil kemungkinan mereka akan melepaskan kendali tersebut. Menurut analisis Hynes, kondisi kritis ini membuat aliran minyak yang melalui selat strategis itu kini hanya beroperasi di bawah 60 persen dari kapasitas normalnya.
Kekhawatiran pasar semakin valid dengan konfirmasi dari otoritas Iran yang menyatakan tiga kapal tanker menjadi target serangan pada Kamis. Hal ini sejalan dengan data dari badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, yang mencatat intensitas serangan terhadap kapal-kapal di perairan tersebut masih berada pada tingkat yang hampir memecahkan rekor. Data kuantitatif terkait pergerakan harga pasar ini adalah sebagai berikut:
- Minyak mentah Brent (pengiriman Januari): Naik US$1,57 atau 1,6% menjadi US$99,86 per barel.
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI): Naik US$1,10 atau 1,22% menjadi US$91,62 per barel.
- Kapasitas operasional aliran minyak di Selat Hormuz: Di bawah 60 persen dari total kapasitas.
Dampak Sentimen Politik dan Implikasi bagi Stabilitas Pasar
Perubahan dramatis dari sentimen politik menjadi realitas keamanan maritim ini menunjukkan betapa rapuhnya ekspektasi pasar terhadap deeskalasi konflik kawasan. Meskipun kemenangan elektoral Donald Trump ke tangan Partai Demokrat sempat dianggap katalisator perdamaian, data UKMTO membuktikan bahwa risiko berlayar tetap tinggi dan berisiko tinggi memicu inflasi energi global kembali. Bagi pelaku industri, ketidakpastian di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menggeser fokus investor dari prospek kebijakan domestik AS ke risiko geopolitik Timur Tengah yang belum terselesaikan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

OJK Perketat Pengawasan: 17 Perusahaan Asuransi dan Dapen Masuk Radar Khusus

Ancaman Risiko Gagal Bayar & Beban Bunga: Irman Faiz Peringatkan RI Harus Disiplin Fiskal 3%

World Bank Catat Utang Luar Negeri Negara Berkembang Pecah Rekor Tembus US$9,4 Triliun
