Ancaman Risiko Gagal Bayar & Beban Bunga: Irman Faiz Peringatkan RI Harus Disiplin Fiskal 3%
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Meskipun ketidakpastian terkait penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut berkontribusi pada kenaikan premi risiko, Irman mencatat bahwa faktor geopolitik memiliki pengaruh yang lebih dominan.
- Ia memproyeksikan bahwa jika situasi geopolitik membaik, CDS berpeluang turun meski ketidakpastian MSCI tetap berlanjut hingga awal 2027.
- Ia secara spesifik menyinggung S&P yang kini mempermasalahkan beban bunga pemerintah terhadap penerimaan negara yang telah melampaui ambang batas 15%.
Irman Faiz, Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk., menegaskan bahwa disciplin pengelolaan utang menjadi prasyarat mutlak bagi Indonesia untuk menekan biaya pinjaman di tengah kenaikan premi risiko gagal bayar atau credit default swap (CDS). Dalam briefing Media Bank Indonesia pada Jumat (6/11/2026), Irman menjelaskan bahwa lonjakan CDS Indonesia didorong oleh berbagai faktor, dengan geopolitik sebagai pemicu utama yang saat ini membebani persepsi investor global terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Meskipun ketidakpastian terkait penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut berkontribusi pada kenaikan premi risiko, Irman mencatat bahwa faktor geopolitik memiliki pengaruh yang lebih dominan. Ia memproyeksikan bahwa jika situasi geopolitik membaik, CDS berpeluang turun meski ketidakpastian MSCI tetap berlanjut hingga awal 2027. Pernyataan ini menandai peringatan penting bagi pemerintah bahwa sentimen pasar tidak lagi bisa mengandalkan pemulihan indeks saham semata, melainkan harus bergantung pada kredibilitas kebijakan fiskal untuk menarik modal asing ke instrumen pendapatan tetap.
Keseriusan Pengendalian Defisit dan Ancaman Downgrade
Irman menekankan bahwa perilaku hati-hati (prudent behavior) dalam manajemen utang harus segera diterapkan untuk mencegah intervensi negatif dari lembaga pemeringkat internasional. Ia secara spesifik menyinggung S&P yang kini mempermasalahkan beban bunga pemerintah terhadap penerimaan negara yang telah melampaui ambang batas 15%. "Penting bagi kita untuk menjaga borrowing cost-nya bisa turun secara perlahan, salah satunya dengan menjaga defisit fiskal di 3%," tegas Irman. Ia memperingatkan bahwa jika rasio beban bunga terhadap penerimaan negara tidak berhasil ditekan di bawah 15% dalam dua tahun ke depan, Indonesia berisiko mengalami downgrade rating yang akan memperburuk akses pembiayaan di pasar global.
Peran Pasar Obligasi dalam Menyuplai Dolar Asing
Dari sisi pasar modal, Irman memprediksi yield Surat Berharga Negara (SBN) dapat turun ke level 7,2% pada tahun depan, asalkan yield obligasi AS turun ke 4,2%. Selisih imbal hasil sebesar 240-270 basis poin dinilai krusial untuk menjaga daya tarik pasar obligasi domestik bagi investor asing. Ia menjelaskan logika makroekonomi bahwa Indonesia saat ini membutuhkan arus dolar yang kuat untuk membiayai impor di tengah defisit transaksi berjalan. Karena pasar saham sedang lemah akibat isu MSCI, pasar obligasi menjadi tulang punggung utama untuk menjaga suplai valuta asing. "Kalau kita butuhkan dolar, equity kita enggak bisa diharapkan. Yang kita harapkan adalah bond market," pungkas Irman.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Andalan Artha (ANDA) Tebar 1,67 Miliar Saham IPO dengan Harga Rp158-Rp189

Kebijakan Besar: Seluruh PPPK Paruh Waktu Resmi Diangkat Jadi Penuh Waktu Mulai 2027

IHSG Tembus Level 4.931 Turun 1,97% di Sesi I, Pasang Surut Sentimen Global dan Nasional
