Ancaman Ekologis di Aceh Jaya: Gajah Liar 'Jinak' Rusak Rumah Warga, BKSDA Gandeng Provinsi Cari Solusi
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

- Insiden tersebut terjadi pada Kamis (5/11), saat pemilik rumah sedang tidak berada di lokasi karena sakit dan ditangani di rumah anaknya di Suak Awe.
- Kejadian ini menyoroti ketegangan berkelanjutan antara manusia dan satwa liar yang kini kerap berkeliaran bebas di wilayah permukiman, memicu kekhawatiran akan keselamatan dan kerugian materiil yang lebih luas.
- Musliadi , Penjabat (Pj) Keuchik atau Kepala Desa Tuwi Peuriya, menjelaskan bahwa gajah tersebut memiliki karakteristik perilaku yang unik dibandingkan satwa liar lainnya.
Satu ekor gajah liar telah menyebabkan kerusakan signifikan pada properti warga di Desa Tuwie Peuriya, Kecamatan Pasie Raya, Kabupaten Aceh Jaya, dengan menghancurkan bagian dapur rumah milik M Ilyas, seorang lansia berumur 63 tahun. Insiden tersebut terjadi pada Kamis (5/11), saat pemilik rumah sedang tidak berada di lokasi karena sakit dan ditangani di rumah anaknya di Suak Awe. Kejadian ini menyoroti ketegangan berkelanjutan antara manusia dan satwa liar yang kini kerap berkeliaran bebas di wilayah permukiman, memicu kekhawatiran akan keselamatan dan kerugian materiil yang lebih luas.
Musliadi, Penjabat (Pj) Keuchik atau Kepala Desa Tuwi Peuriya, menjelaskan bahwa gajah tersebut memiliki karakteristik perilaku yang unik dibandingkan satwa liar lainnya. "Satu gajah itu memang sudah seperti jinak, kami usir tidak akan pergi, beda dengan gajah liar lain kalau lihat kami langsung lari," ujar Musliadi. Pola perilaku ini membuat upaya pengusiran secara manual oleh warga menjadi sia-sia. Sebelumnya, satwa ini juga dilaporkan telah merusak sejumlah tanaman pertanian milik warga setempat, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang berulang dan membuat masyarakat merasa terancam serta resah dengan kehadiran mamalia besar tersebut di area hunian mereka.
BKSDA Akui Keterbatasan, Koordinasi dengan Provinsi untuk Solusi Teknis
Menanggapi eskalasi konflik tersebut, Supriadi, Kepala BKSDA Aceh Jaya, membenarkan bahwa instansinya telah menerima laporan dan pernah turun langsung ke lokasi untuk menghalau gajah. Namun, upaya pengusiran manual dinilai tidak efektif karena tingkah laku satwa yang tidak menunjukkan insting lari dari manusia. Kondisi ini mendorong Supriadi untuk mengambil langkah strategis dengan berkoordinasi bersama pihak provinsi, yakni BKSDA Aceh, untuk meminta penurunkan gajah jinak sebagai alat penghalau. "Secara manual memang sudah tidak mempan lagi," tegas Supriadi, mengindikasikan bahwa penanganan konflik satwa liar dan manusia di wilayah tersebut memerlukan pendekatan teknis yang lebih kompleks dari sekadar pengusiran fisik oleh personel darat.
Antisipasi Lonjakan Korban dan Tuntutan Respons Cepat Masyarakat
Dari perspektif keamanan publik, masyarakat Desa Tuwi Peuriya memohon agar pihak berwenang segera mengambil tindakan definitif untuk memindahkan satwa tersebut ke habitat aslinya. Menurut Musliadi, kepasrahan terhadap keberadaan gajah yang 'jinak' ini meningkatkan risiko korban jiwa atau kerusakan properti yang lebih parah di masa depan. "Harapan kami pihak terkait yaitu BKSDA segera mengambil langkah untuk mengusir gajah tersebut, sehingga tidak meresahkan warga dan menunggu korban lainnya," tutupnya. Respons cepat dari BKSDA Aceh melalui penggunaan gajah jinak diharapkan dapat menjadi solusi akhir untuk memulihkan rasa aman warga dan menghentikan siklus kerusakan tanaman serta rumah yang telah berulang kali terjadi di kawasan Pasie Raya.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Wagub Jateng Minta Sinergi Baznas dan LazisMu: Zakat Harus Produktif untuk Cetak Dampak Jangka Panjang

Prabowo Resmikan Misi 11 Dubes LBBP: Dorong Kemitraan Strategis dan Diplomasi Budaya

ITS dan PLN Gelar PLN ICE 2026: Wadah Inovasi Mahasiswa untuk Transisi Energi Nasional
