Kamis, 5 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Reaktivasi 280 Km Rel di Sumbar: Strategi Ekonomi dan Sejarah di Ranah Minang

Berita NasionalRina WijayaRina WijayaSumber: Kompas Nasional
Rina Wijaya
Rina Wijaya
Jurnalis Investigasi

Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Reaktivasi 280 Km Rel di Sumbar: Strategi Ekonomi dan Sejarah di Ranah Minang
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Di jantung Ranah Minang, 280 kilometer rel tua yang tersisa kini menjadi fokus utama upaya reaktivasi perkeretaapian untuk menggerakkan denyut ekonomi Sumatera Barat (Sumbar).
  • Dengan target reaktivasi yang dicanangkan pada 27 Oktober , pemerintah melalui BUMN berupaya memulihkan jalur yang telah lama terlelap sejak era kolonial Hindia Belanda.
  • Sejarah mencatat bahwa jalur kereta api ini dibangun pertama kali pada 1887 untuk rute Pulau Air ke Padang Panjang, kemudian diperluas ke Bukittinggi pada 1891.

Di jantung Ranah Minang, 280 kilometer rel tua yang tersisa kini menjadi fokus utama upaya reaktivasi perkeretaapian untuk menggerakkan denyut ekonomi Sumatera Barat (Sumbar). Bobby Rasyidin, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar nostalgia, melainkan strategi vital untuk menghidupkan kembali konektivitas yang pernah menghubungkan pedalaman dengan pesisir. Dengan target reaktivasi yang dicanangkan pada 27 Oktober, pemerintah melalui BUMN berupaya memulihkan jalur yang telah lama terlelap sejak era kolonial Hindia Belanda.

Sejarah mencatat bahwa jalur kereta api ini dibangun pertama kali pada 1887 untuk rute Pulau Air ke Padang Panjang, kemudian diperluas ke Bukittinggi pada 1891. Pembangunan ini didorong oleh penemuan batu bara di Sawahlunto oleh WH De Grave pada 1871, yang memicu ekspansi jalur hingga Muaro Kalaban (selesai 1892) dan Sawahlunto (1896). Jalur ini dikenal sebagai jalur kereta api tambang tertua di Asia, menyimpan nilai sejarah yang tinggi sebelum akhirnya ditinggalkan secara bertahap mulai 1970-an karena kalah bersaing dengan moda darat lain dan penurunan produksi tambang.

Berbeda dengan fokus KAI terkait pengadaan rangkaian kereta baru untuk layanan rutin, inisiatif di Sumatera Barat ini lebih menitikberatkan pada pemulihan infrastruktur historis dan logistik tambang.

Lonjakan Penumpang sebagai Katalisator Pengembangan

Meskipun saat ini hanya 84 kilometer rel yang aktif, antusiasme masyarakat terhadap moda transportasi ini terus tumbuh signifikan. Data KAI menunjukkan peningkatan jumlah penumpang yang konsisten: dari sekitar 1,8 juta penumpang pada 2024 (naik 5,9%), menjadi 2 juta penumpang pada 2025 (naik 8,9%), dan melonjak 22% pada Semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Fenomena ini membuktikan bahwa masyarakat Sumbar telah terbiasa menggunakan kereta api, menciptakan fondasi pasar yang solid bagi pengembangan jaringan di masa depan.

Menurut Bobby Rasyidin, peningkatan ini merupakan potensi besar untuk pengembangan jalur. "Jadi urang awak ini sudah familiar naik kereta api," ujarnya, menyoroti bahwa reaktivasi ini juga didorong oleh rencana pembukaan kembali tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto. Langkah ini menjadi bagian dari upaya nasional untuk pemerataan layanan kereta api di luar Pulau Jawa.

Restorasi Warisan Sejarah dan Dampak Ekonomi

Reaktivasi ini akan mengubah lanskap transportasi Sumbar, yang sebelumnya hanya memiliki jalur aktif terbatas dari Kota Padang hingga Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Padang Pariaman. Dulu, stasiun terjauh berada di Sawahlunto, namun kini stasiun terakhir terputus di Padang Pariaman. Dengan diaktifkan kembali jalur-jalur lama, tidak hanya konektivitas logistik dan penumpang yang pulih, tetapi juga potensi wisata sejarah dari jalur tambang tertua di Asia. Inisiatif ini diharapkan dapat menghidupkan kembali ekonomi lokal yang selama ini bergantung pada jalur transportasi darat, sekaligus melestarikan warisan infrastruktur kolonial yang kini menjadi aset strategis nasional.

BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ