Jabar Perluas Diplomasi Ekonomi dengan Gyeongsangbuk-do Korsel, Targetkan Investasi dan Pariwisata
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan menegaskan perluasan ini mencakup ranah strategis seperti ekonomi, perdagangan, investasi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga pariwisata.
- Langkah ini diambil untuk memastikan relasi internasional tidak sekadar seremonial, melainkan bermuara pada program produktif yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Keputusan strategis ini dibahas tuntas saat Erwan menerima kunjungan resmi Wakil Gubernur Urusan Administrasi Gyeongsangbuk-do Hwang Myeongseok di Gedung Sate, Bandung, pada Rabu (4/11).
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) resmi memperluas cakupan kerja sama bilateral dengan Provinsi Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan, melampaui sektor olahraga yang menjadi fondasi hubungan selama belasan tahun. Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan menegaskan perluasan ini mencakup ranah strategis seperti ekonomi, perdagangan, investasi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga pariwisata. Langkah ini diambil untuk memastikan relasi internasional tidak sekadar seremonial, melainkan bermuara pada program produktif yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Keputusan strategis ini dibahas tuntas saat Erwan menerima kunjungan resmi Wakil Gubernur Urusan Administrasi Gyeongsangbuk-do Hwang Myeongseok di Gedung Sate, Bandung, pada Rabu (4/11). Erwan menekankan bahwa diplomasi daerah harus menghasilkan manfaat nyata. "Kami berharap hubungan kedua wilayah tidak hanya menjadi hubungan persahabatan, tetapi juga dapat berkembang menjadi kerja sama yang produktif di berbagai sektor," ujar Erwan, menandaskan komitmen Jabar untuk mengoptimalkan potensi kemitraan dengan mitra di Asia Timur.
Fondasi Kemitraan dan Potensi Industri Strategis
Hwang Myeongseok menyambut hangat inisiatif perluasan kolaborasi ini. Ia mengingatkan bahwa fondasi kemitraan kedua daerah telah diletakkan sejak tahun 2010 melalui pertukaran di bidang olahraga, termasuk keikutsertaan aparatur pemerintah dan generasi muda Jabar dalam perkemahan budaya di Korsel. Namun, Hwang sepakat bahwa cakupan kerja sama kini perlu ditingkatkan ke level yang lebih substansial, yaitu sektor ekonomi, industri, dan kebudayaan. "Selama ini pertukaran informasi mungkin lebih banyak mengutamakan bidang olahraga. Namun, mulai sekarang kerja sama juga bisa lebih difokuskan pada bidang ekonomi dan kebudayaan," kata Hwang.
Hwang memandang Jawa Barat sebagai episentrum strategis dalam peta kerja sama ekonomi antara Korsel dan Indonesia. Hal ini didorong oleh kehadiran sejumlah raksasa industri global asal Korsel yang telah menanamkan modal dan beroperasi secara masif di wilayah tersebut. Rincian potensi sinergi industri ini meliputi:
- Keberadaan perusahaan multinasional seperti Hyundai Motor, Samsung Electronics, dan Hankook Tire yang telah beroperasi di Jawa Barat.
- Peran Gyeongsangbuk-do dalam pengembangan industri baja di Pohang serta industri elektronik dan semikonduktor di Korsel.
- Peluang penguatan rantai pasok industri yang saling melengkapi antara kedua wilayah.
Optimisme Investasi dan Nilai Tambah Pariwisata
Di luar sektor industri, pertemuan tersebut juga membuka opsi kolaborasi dalam pemanfaatan kebudayaan tradisional agar memiliki nilai tambah ekonomi dan menjadi daya tarik utama sektor pariwisata. Dengan pendekatan yang lebih holistik, Pemprov Jabar optimis bahwa gelombang investasi baru dari Korea Selatan akan semakin deras masuk ke wilayahnya. Strategi ini diharapkan mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi regional secara berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat posisi Jawa Barat sebagai gerbang utama investasi asing di Indonesia bagian barat, sekaligus mempererat ikatan budaya antara kedua provinsi mitra.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

BKSDA Maluku Amankan Tiga Burung Dilindungi dari KM Labobar di Ambon

SiParkir dan AMAN Jadi Andalan Sorong Dampakkan Inovasi IGA 2026

Progres 76%, IPAL Zona 1 Pluit Rp7,7 Triliun Jadi Solusi Jangka Panjang Krisis Air Limbah Jakarta
