BPS: Pengangguran RI Turun Jadi 7,38 Juta Orang, TPT Nasional Meroket ke 4,75 Persen
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan perbaikan signifikan dalam pasar kerja Indonesia, dengan jumlah penganggur pada Agustus 2026 turun menjadi 7,38 juta orang .
- Angka ini menyusut sebanyak 77 ribu orang dibandingkan periode yang sama pada 2025.
- Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edhy Mahmud , menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional yang berhasil ditekan ke level 4,75 persen .
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan perbaikan signifikan dalam pasar kerja Indonesia, dengan jumlah penganggur pada Agustus 2026 turun menjadi 7,38 juta orang. Angka ini menyusut sebanyak 77 ribu orang dibandingkan periode yang sama pada 2025. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edhy Mahmud, menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional yang berhasil ditekan ke level 4,75 persen. Tren positif ini melanjutkan pemulihan dari 4,85 persen pada Agustus 2025 dan 4,91 persen pada Agustus 2024, mengindikasikan bahwa penyerapan tenaga kerja semakin optimal meskipun tantangan struktural masih ada.
Data Sakernas juga menunjukkan total angkatan kerja mencapai 155,37 juta orang, naik 1,366 juta orang dari tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 147,986 juta orang tercatat bekerja. Komposisi pekerjaan didominasi oleh pekerja penuh yang bekerja minimal 35 jam per minggu, dengan rincian 99,847 juta orang.
Dinamika Gender: Paradox Perempuan vs. Penurunan di Wilayah Perkotaan
Analisis mendalam menyingkap adanya kesenjangan gender yang tetap menjadi perhatian. TPT untuk perempuan justru melonjak menjadi 4,93 persen dari 4,84 persen pada tahun lalu, sementara TPT laki-laki turun menjadi 4,64 persen. "Penurunan TPT pada Agustus 2026 dibandingkan Agustus 2025 terjadi pada penduduk laki-laki, sedangkan tingkat pengangguran terbuka perempuan justru mengalami peningkatan," ujar Edhy. Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi hambatan akses lebih besar ke pasar kerja formal. Namun, secara spasial, baik kawasan perkotaan maupun perdesaan sama-sama mencatatkan perbaikan.
Detail perkembangan TPT berdasarkan wilayah dan jenis kerja adalah sebagai berikut:
- TPT Perkotaan: Turun signifikan dari 5,75 persen menjadi 5,53 persen.
- TPT Perdesaan: Berkoreksi tipis dari 3,47 persen menjadi 3,45 persen.
- Kategorisasi Pekerja: Di luar pekerja penuh, terdapat 35,295 juta pekerja paruh waktu dan 12,844 juta setengah pengangguran (underemployed).
Implikasi Kebijakan dan Prospek Penyerapan Tenaga Kerja
Menurut BPS, 'setengah pengangguran' merujuk pada pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu namun masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan. Eksistensi 12,844 juta kelompok ini mengisyaratkan bahwa kualitas pekerjaan menjadi tantangan berikutnya setelah kuantitas tenaga kerja terserap. Data ini menjadi landasan bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan padat karya dan penguatan sektor-sektor penyerap tenaga kerja besar. Penurunan TPT nasional, meski tipis, tetap menjadi sinyal positif bagi pemulihan ekonomi yang inklusif, asalkan disparitas gender dalam akses pekerjaan dapat diperbaiki melalui program afirmasi dan peningkatan keterampilan tenaga kerja perempuan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Jatuhnya Besok, ULTJ Usung Akuisisi Frisian Flag Rp14,57 T Lewat Mekanisme Inbreng Saham

Sinergi Danantara dan DPR Buka Jalan Kebangkitan Industri Tekstil RI Melalui Ekosistem Terintegrasi

Tangis Haru Suryani: Komisaris PLN Nyalakan Listrik Gratis di Langkat Lewat Program Light Up The Dream
