Wamentan Alim Setiawan: Optimalisasi Lahan 50.000 Hektare Jadi Kunci Tekan Impor Kedelai

- Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat produksi kedelai nasional melalui peningkatan produktivitas, bukan perluasan lahan.
- Langkah strategis ini diambil untuk mengurangi ketergantungan impor komoditas strategis yang menjadi sumber protein utama bagi mayoritas masyarakat Indonesia dalam konsumsi tempe dan tahu.
- Pengembangan ini berfokus pada penguatan teknologi, pendampingan petani, serta pengelolaan budidaya yang lebih baik agar produktivitas nasional dapat meningkat secara berkelanjutan.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat produksi kedelai nasional melalui peningkatan produktivitas, bukan perluasan lahan. Langkah strategis ini diambil untuk mengurangi ketergantungan impor komoditas strategis yang menjadi sumber protein utama bagi mayoritas masyarakat Indonesia dalam konsumsi tempe dan tahu. Alim menyatakan bahwa pengembangan kedelai merupakan bagian dari upaya kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan mitra usaha pertanian untuk menjawab arahan Presiden dan Menteri Pertanian.
Pengembangan ini berfokus pada penguatan teknologi, pendampingan petani, serta pengelolaan budidaya yang lebih baik agar produktivitas nasional dapat meningkat secara berkelanjutan. Strategi utama yang dipilih adalah optimalisasi pola tanam melalui sistem pergiliran komoditas maupun tumpangsari. Pendekatan ini memastikan peningkatan produksi kedelai tidak mengurangi area produksi padi nasional, sekaligus memaksimalkan pemanfaatan lahan yang ada tanpa perlu membuka hutan atau lahan baru.
Grobogan Ditetapkan sebagai Sentra Awal dengan Target Produksi 15.000 Ton
Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) memilih Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah sebagai lokasi awal pengembangan. Daerah ini terpilih karena memiliki sejarah panjang sebagai sentra kedelai nasional dengan produktivitas relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Alim menjelaskan bahwa produktivitas kedelai nasional saat ini masih berkisar antara 1,6 hingga 1,8 ton per hektare. Oleh karena itu, peningkatan hasil panen menjadi fokus utama dengan target efisiensi yang lebih tinggi.
- Luas pengembangan khusus di Kabupaten Grobogan: 5.025 hektare.
- Potensi produksi di Grobogan: Lebih dari 15.000 ton (asumsi produktivitas 3 ton/ha).
- Pengembangan dilakukan melalui kolaborasi antara Kementan dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Alim berharap pengembangan di Grobogan dapat menjadi model nasional yang memperlihatkan keberhasilan kolaborasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat kemandirian pangan nasional.
Proyeksi Nasional: 150.000 Ton dari Program Bantuan 50.000 Hektare pada 2026
Melampaui target regional, pemerintah secara nasional menargetkan pengembangan kedelai melalui program bantuan seluas 50.000 hektare pada tahun 2026. Jika produktivitas berhasil ditingkatkan menjadi tiga ton per hektare, potensi produksi nasional diproyeksikan mencapai sekitar 150.000 ton. Target ambisius ini mencerminkan urgensi pemerintah dalam mempercepat swasembada kedelai.
Alim menegaskan bahwa melalui pengembangan produksi yang terstruktur dan berbasis data, pemerintah tidak hanya menargetkan peningkatan produktivitas petani, tetapi juga memperkuat pasokan dalam negeri. Langkah ini diharapkan mampu memangkas volume impor kedelai secara signifikan, sehingga ketahanan pangan nasional menjadi lebih kokoh dan mandiri.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Kajian Baru: Kebiasaan Main Game Sebelum Tidur Terbukti Merusak Kualitas Istirahat Dewasa

Percepat TBI Entikong, BNPPDT Solusi Hambatan Regulasi dan Logistik Lintas Batas

Rommy Soekarno Peringatkan: Kedaulatan Digital dan Antariksa Jadi Ujian Geopolitik Baru Indonesia
