Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Ekonom CORE: Stabilitas Keuangan KSSK Harus Diterjemahkan Menjadi Perbaikan Ekonomi Riil

EkonomiSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: Antara News
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ekonom CORE: Stabilitas Keuangan KSSK Harus Diterjemahkan Menjadi Perbaikan Ekonomi Riil
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • "Menurut saya, tantangan terbesar bukan menjaga stabilitas keuangan karena itu relatif masih terkendali.
  • Tantangan sesungguhnya adalah memastikan stabilitas tersebut diterjemahkan menjadi perbaikan ekonomi riil," tegas Manilet.
  • Analisis Manilet mengungkap adanya disonansi antara kesehatan sektor perbankan dan kondisi masyarakat.

Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), menekankan bahwa stabilitas sistem keuangan pada triwulan III-2026 yang dijaga oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tidak boleh berhenti di situ saja; pencapaian tersebut harus diikuti secara konkret dengan perbaikan ekonomi riil. Dalam keterangannya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu, Manilet mengamini penilaian KSSK bahwa sektor keuangan terjaga stabil, namun ia mengingatkan bahwa kestabilan makro ini belum tentu mencerminkan kesehatan fundamental perekonomian secara menyeluruh. "Menurut saya, tantangan terbesar bukan menjaga stabilitas keuangan karena itu relatif masih terkendali. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan stabilitas tersebut diterjemahkan menjadi perbaikan ekonomi riil," tegas Manilet.

Analisis Manilet mengungkap adanya disonansi antara kesehatan sektor perbankan dan kondisi masyarakat. Meskipun pertumbuhan kredit mencatat level tinggi, lonjakan tersebut didorong secara dominan oleh pembiayaan korporasi dan investasi. Sebaliknya, pemulihan konsumsi rumah tangga berjalan lebih lambat dari ekspektasi. "Ini menunjukkan ada jarak antara kesehatan sektor keuangan dan kondisi masyarakat. Perbankan terlihat sehat, tetapi daya beli belum tentu ikut kuat," jelasnya. Fenomena ini mengindikasikan bahwa stabilitas yang terlihat di atas kertas belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan riil pada level rumah tangga.

Risiko Terbsembunyi di Balik Data Stabilitas Kuartal III

Manilet mengingatkan bahwa asesmen KSSK bersifat backward-looking (melihat ke belakang), sehingga data yang dirilis belum sepenuhnya menangkap risiko yang sedang berkembang pasca-akhir kuartal III. Tekanan di pasar keuangan mulai terdeteksi melalui beberapa indikator kunci yang mengkhawatirkan: pelemahan nilai tukar rupiah yang melampaui Rp18.000 per dolar AS, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke bawah level 5.000, peningkatan biaya utang pemerintah, serta berlanjutnya arus keluar modal asing dari pasar saham. "Artinya, kondisi yang dinilai stabil pada kuartal III belum tentu mencerminkan risiko yang sedang berkembang saat ini," ujar Manilet. Kesenjangan antara persepsi stabilitas lama dan realitas volatilitas pasar saat ini memerlukan perhatian khusus dari pembuat kebijakan.

Dorongan Transformasi Stabilitas Menjadi Pertumbuhan Berkelanjutan

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Manilet mendorong pemerintah untuk memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan benar-benar menjadi pendorong perbaikan ekonomi riil, bukan sekadar penjaga nilai aset perbankan. Ia memperingatkan potensi bahaya struktural jika konsumsi rumah tangga terus lemah dan kelas menengah tertekan, sementara pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh investasi padat modal. "Jika konsumsi rumah tangga tetap lemah, kelas menengah terus tertekan, dan pertumbuhan hanya ditopang investasi padat modal, maka ekonomi bisa terlihat stabil dari atas tetapi semakin rapuh dari bawah," katanya. Implikasi dari kondisi ini adalah potensi rapuh fondasi ekonomi nasional di tengah fasad stabilitas makro yang kuat, sehingga intervensi kebijakan yang berpihak pada daya beli masyarakat menjadi krusial.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ