Densus 88 Amankan 6 Terduga Teroris di Tiga Lokasi: Sita Barang Bukti Elektronik dan Buku
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menggelar serangkaian penangkapan terhadap enam terduga teroris di tiga lokasi berbeda, meliputi Bandung, Jawa Barat; Klaten, Jawa Tengah; dan Sulawesi Tengah, dalam operasi yang berlangsung sejak Jumat (2/10) pagi. Operasi ini menargetkan rumah kontrakan yang diduga digunakan sebagai basis operasional atau penyimpanan barang bukti terkait jaringan terorisme.
Di lokasi pertama, Parakan Saat, Kecamatan Antapani, Kota Bandung, petugas menggeledah sebuah rumah kontrakan setelah menangkap seorang pria di tempat lain pada hari yang sama. Dalam penggeledahan tersebut, polisi menyita flashdisk, kartu HP, dan ponsel. Ketua RT setempat, Agus, mengonfirmasi bahwa istri dan dua anak terduga pelaku yang berada di dalam rumah tidak turut diamankan demi menjaga kondisi psikologis mereka. Petugas Polwan dikerahkan untuk mendampingi proses interogasi di lokasi agar anak-anak tidak traumatik.
Kasus serupa terjadi di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, di mana Densus 88 menangkap dua pria berinisial N dan Y. Kedua pria tersebut dikenal sebagai pengontrak yang baru menetap sekitar dua tahun dan jarang berinteraksi dengan warga. N, yang bekerja sebagai pengajar di pondok pesantren Desa Temuwangi, diduga memiliki tiga anak. Barang bukti yang disita dari kediaman N meliputi satu tablet, dua handphone, dan tujuh buku yang terkait aktivitas terduga. Dari kediaman Y, yang diketahui sebagai tukang reparasi elektronik dengan KTP asli Boyolali, petugas hanya menyita satu hard disk.
Lokasi ketiga berada di Sulawesi Tengah, di mana Densus 88 Antiteror Polda Sulteng mengamankan tiga orang di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso. Dua terduga berinisial A dan GG ditangkap di Desa Tomoli Utara, Kecamatan Toribulu, pada Jumat (2/10). Sementara itu, terduga ketiga berinisial S diamankan di wilayah Kabupaten Poso. Penangkapan ini menandai jangkauan jaringan yang diduga meluas dari Jawa hingga Sulawesi.
Kabidhumas Polda Sulteng, Kombes Achmad Muhaimin, menegaskan bahwa tim masih dalam tahap pendalaman untuk memahami afiliasi ketiga terduga di Sulawesi Tengah. "Tim saat ini melakukan pengembangan untuk mengetahui lebih lanjut terkait dugaan afiliasi jaringan terorisme dari ketiga orang tersebut," ujar Achmad. Pengembangan ini krusial untuk memutus mata rantai jaringan yang diduga terkoordinasi antardaerah tersebut.
Analisis Redaksi
Pemindahan fokus investigasi ke Sulawesi Tengah dan temuan barang bukti berupa literatur serta media penyimpanan data mengindikasikan adanya upaya transfer ideologi atau distribusi materi pelatihan secara digital. Buku dan perangkat elektronik bukan sekadar barang bukti fisik, melainkan cerminan dari struktur jaringan yang menggunakan cara modern untuk koordinasi, sehingga pola lama sel teroris yang terisolasi mulai bergeser menjadi jaringan yang lebih terdiseminasi.
Fakta bahwa dua terduga di Klaten adalah pengontrak jangka pendek dan minim interaksi sosial menunjukkan modus operandi yang lebih menyamar dan sulit terdeteksi oleh mata masyarakat setempat. Ini menyulitkan deteksi dini berbasis masyarakat. Secara logis, langkah selanjutnya dari aparat kepolisian akan berfokus pada pemetaan jalur logistik dan komunikasi digital antar-pelaku di tiga provinsi tersebut, dengan asumsi bahwa ketiganya merupakan simpul dalam satu jaringan besar yang sedang diurai.