Kisah di Balik Trick or Treat: Dari Festival Kuno hingga Industri Permen Miliaran Dolar
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Kebiasaan anak-anak berkeliling meminta permen atau trick or treat saat Halloween kini telah menjadi ikon global, namun akar sejarahnya jauh lebih kompleks dari sekadar perayaan modern.
- Praktik ini berakar dari festival Samhain , perayaan panen masyarakat Kelt kuno yang dilaksanakan pada 31 Oktober, di mana nama Samhain dalam bahasa Irlandia berarti 'akhir musim panas'.
- Tradisi ini berevolusi secara perlahan, bertransformasi dari ritual mistik kuno menjadi fenomena budaya pop yang didorong oleh dinamika sosial dan ekonomi di abad ke-20.
Kebiasaan anak-anak berkeliling meminta permen atau trick or treat saat Halloween kini telah menjadi ikon global, namun akar sejarahnya jauh lebih kompleks dari sekadar perayaan modern. Praktik ini berakar dari festival Samhain, perayaan panen masyarakat Kelt kuno yang dilaksanakan pada 31 Oktober, di mana nama Samhain dalam bahasa Irlandia berarti 'akhir musim panas'. Tradisi ini berevolusi secara perlahan, bertransformasi dari ritual mistik kuno menjadi fenomena budaya pop yang didorong oleh dinamika sosial dan ekonomi di abad ke-20.
Menjelang abad ke-16, tradisi serupa yang dikenal sebagai guising mulai lazim dilakukan oleh anak-anak di Skotlandia dan Irlandia. Mereka mengenakan kostum, menyanyikan lagu, atau membacakan puisi pada malam All Hallows Eve untuk mendapatkan imbalan berupa makanan dan uang. Pola ini kemudian dibawa oleh gelombang imigran Skotlandia dan Irlandia ke Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19. Namun, perayaan Halloween di Amerika sempat terkendala oleh aksi jahil atau vandalisme, seperti membalikkan mobil dan memotong tiang telepon, yang dianggap sebagai gangguan mistis. Untuk menekan potensi kerusakan serius yang membahayakan, masyarakat mulai mengusulkan inisiatif membagikan makanan atau permen kepada pengunjung, yang kemudian secara resmi dikenal dengan istilah trick or treat pada tahun 1920-an.
Transformasi Industri Permen Pasca Perang Dunia II
Tren trick or treat mencapai puncak popularitasnya setelah Perang Dunia II, terutama setelah penggantian bahan baku permen menjadi lebih stabil. Meskipun saat Perang Dunia II pembatasan gula sempat mengurangi tradisi berbagi permen, situasi membaik pada tahun 1950-an saat permen kembali mudah diakses. Para produsen permen segera memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan penjualan, menjadikan Halloween sebagai momen krusial dalam siklus bisnis mereka. Menyebarluasnya distribusi cokelat sebagai suguhan utama menjadikan industri ini sangat bergantung pada perayaan tahunan tersebut.
Ekonomi Cokelat dan Fenomena Candy Corn
Dampak ekonomi dari tradisi ini terasa signifikan dalam skala nasional. Pada tahun 2009, Halloween tercatat sebagai momen penjualan cokelat tertinggi di Amerika Serikat, dengan masyarakat menghabiskan miliaran dolar untuk kebutuhan perayaan. Selain cokelat, permen berbentuk kerucut putih, kuning, dan oranye atau candy corn tetap bertahan sebagai cemilan wajib yang identik dengan suasana Halloween. Evolusi dari ritual berbagi makanan sederhana menjadi industri permen yang masif membuktikan bahwa tradisi kuno mampu beradaptasi dan menjadi pilar ekonomi kreatif yang kuat hingga saat ini.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Bulog Luncurkan Sertifikasi 1.800 Mitra Penggilingan untuk Standarisasi Mutu Beras Nasional

Petaka Water Bombing di Kalsel: Yayan, Kru Heli yang Turun untuk Bertugas, Ditemukan Meninggal

Sugiono: Program Gentengisasi Picu Dampak Beruntun Positif bagi Ekonomi Rakyat
