Panas Melanda, Industri Air Minum Kemasan Catat Pertumbuhan Ganda Digits di 2026
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Pergerakan industri makanan dan minuman di Indonesia diproyeksikan tetap solid pada 2026, dengan pertumbuhan diharapkan menembus angka di atas 6% .
- Lukman , Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), dalam pertemuan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Jawa Barat.
- Meski pasar menghadapi tantangan makroekonomi, segmen kebutuhan pokok menunjukkan ketahanan yang luar biasa, menjadikannya penopang utama kinerja sektor secara keseluruhan.
Pergerakan industri makanan dan minuman di Indonesia diproyeksikan tetap solid pada 2026, dengan pertumbuhan diharapkan menembus angka di atas 6%. Optimisme ini dipertegas oleh Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), dalam pertemuan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Jawa Barat. Meski pasar menghadapi tantangan makroekonomi, segmen kebutuhan pokok menunjukkan ketahanan yang luar biasa, menjadikannya penopang utama kinerja sektor secara keseluruhan.
Fluktuasi permintaan di pasar tidak lagi bergerak seragam karena adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat. Produsen kini dituntut lebih selektif dalam mengembangkan lini produk untuk menjaga daya saing. Di sisi lain, perkembangan pasar yang dinamis membuka celah bagi perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi serta menjangkau segmen konsumen yang lebih luas, terutama pada kategori produk yang masih menjadi kebutuhan utama harian.
Dorongan Kuat dari Segmentasi Kebutuhan Pokok
Kinerja subsektor menunjukkan diferensiasi yang jelas antara produk primer dan sekunder. Adhi memaparkan bahwa industri bumbu-bumbuan, air minum dalam kemasan (AMDK), dan frozen food sedang dalam tren positif dengan potensi pertumbuhan double digit. Fenomena cuaca panas ekstrem dan dampak El Nino justru menjadi berkah bagi pelaku usaha AMDK. Peningkatan permintaan ini memicu lonjakan jumlah pemain di pasar, di mana tidak hanya perusahaan besar yang mampu menangkap peluang, tetapi industri berskala kecil pun dilaporkan berhasil menjual produknya dengan baik berkat maraknya pembangunan pabrik baru.
- Industri Kebutuhan Pokok (Positif): Bumbu-bumbuan, AMDK, dan frozen food menunjukkan pertumbuhan tinggi.
- Industri Sekunder (Tertekan): Produk seperti permen dan minuman jus mengalami tekanan karena sifatnya yang lebih mahal dan segmen permintaan yang terbatas.
Strategi Mitigasi Dampak Iklim dan Volatilitas Pasokan
Adhi menegaskan bahwa pertumbuhan AMDK berpotensi melampaui 10% berkat faktor cuaca yang mendukung permintaan minuman dingin. Namun, iklim ekstrem juga membawa risiko asimetris bagi rantai pasok pangan nasional. Kondisi panas ekstrem menguntungkan komoditas tertentu seperti garam, yang pasokannya dinilai bagus tahun ini. Sebaliknya, perubahan iklim global mulai menekan produksi sejumlah komoditas hortikultura di berbagai negara, yang berisiko mengganggu ketersediaan bahan baku di masa depan. GAPMMI mendesak seluruh pihak di industri makanan dan minuman untuk tetap waspada dan melakukan antisipasi sejak dini terhadap fluktuasi pasokan akibat anomali cuaca global.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Panduan Saldo Minimum Bank Mandiri, BRI, dan BNI Per November 2026: Aturan Baru Mengikat Nasabah

PAM JAYA Percepat Target 100 Persen Cakupan Air Minum 2030, Raih Penghargaan Diakui Publik

Wamenko Hanif Targetkan Skor Indeks Ketahanan Pangan 77, Janjikan Kolaborasi Lintas Sektor
