Sabtu, 7 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Meski Rutin Sikat Gigi, Inilah 6 Penyebab Halitosis yang Sering Diabaikan Menurut Kemenkes RI

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara Terkini
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Meski Rutin Sikat Gigi, Inilah 6 Penyebab Halitosis yang Sering Diabaikan Menurut Kemenkes RI
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa bau mulut atau halitosis bukan selalu akibat malas menyikat gigi.
  • Fenomena ini kerap terjadi karena sisa makanan, bakteri, dan lapisan pada lidah yang tidak dibersihkan secara menyeluruh, menghasilkan senyawa sulfur yang berbau tidak sedap.
  • Hal ini menegaskan bahwa rutinitas kebersihan mulut standar saja tidak cukup untuk menjamin napas tetap segar tanpa memperhatikan faktor-faktor pendukung lainnya.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa bau mulut atau halitosis bukan selalu akibat malas menyikat gigi. Fenomena ini kerap terjadi karena sisa makanan, bakteri, dan lapisan pada lidah yang tidak dibersihkan secara menyeluruh, menghasilkan senyawa sulfur yang berbau tidak sedap. Hal ini menegaskan bahwa rutinitas kebersihan mulut standar saja tidak cukup untuk menjamin napas tetap segar tanpa memperhatikan faktor-faktor pendukung lainnya.

Penyebab utama yang sering terlewat adalah penumpukan bakteri dan sel-sel mati di bagian belakang lidah. Permukaan ini menjadi lahan subur bagi bakteri untuk menguraikan sisa makanan. Selain itu, sisa makanan yang terselip di sela-sela gigi juga memicu pertumbuhan plak. NHS menyarankan pembersihan sela-sela gigi minimal sekali sehari menggunakan benang gigi, di luar aktivitas menyikat gigi dua kali sehari selama dua menit.

Rendahnya Produksi Air Liur dan Pengaruh Pola Makan

Produksi air liur yang berkurang, atau xerostomia, memudahkan bakteri berkembang biak. Kondisi ini bisa dipicu oleh dehidrasi, bernapas lewat mulut, atau efek samping obat seperti antidepresan dan obat tekanan darah. Untuk mengatasinya, asupan cairan perlu dicukupi dan penggunaan permen karet bebas gula dapat membantu menjaga kelembapan mulut.

Pola konsumsi juga berdampak signifikan. Makanan beraroma kuat seperti bawang putih, petai, dan jengkol dapat bertahan di sistem tubuh meski gigi sudah dibersihkan. Kebiasaan merokok dan diet ketat juga turut memperburuk kondisi. Oleh karena itu, modifikasi kebiasaan sehari-hari menjadi kunci penting dalam menekan sumber bau napas dari dalam tubuh. Stres dan konsumsi kopi juga dapat memperburuk kondisi lambung, seperti yang dibahas dalam artikel stres dan kopi sebagai pemicu GERD.

Keterkaitan dengan Penyakit Gusi dan Gangguan Medis

Bau mulut yang menetap sering kali menjadi indikator masalah kesehatan gigi, seperti radang gusi atau infeksi. Gejala seperti gusi berdarah, membengkak, atau nyeri harus segera diwaspadai karena dapat berkembang menjadi penyakit jaringan penyangga yang serius. Pemeriksaan dokter gigi menjadi langkah wajib jika masalah ini tidak kunjung membaik setelah perawatan rumah.

  • Bersihkan lidah secara perlahan dengan sikat atau pembersih khusus.
  • Gunakan benang gigi atau sikat interdental setiap hari.
  • Pantau kesehatan gusi secara berkala di dokter gigi.

Penyebab lain bisa berasal dari radang amandel, infeksi sinus, atau refluks asam lambung. Jika kebersihan mulut sudah terjaga namun bau tetap muncul, konsultasi medis diperlukan untuk menelusuri akar masalah sistemik. Langkah preventif dan kuratif yang tepat akan menentukan penanganan halitosis yang efektif. Menjaga kestabilan emosi juga penting dalam menjaga kesehatan holistik, sebagaimana diulas dalam dampak menahan emosi terhadap tubuh.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ