Menguatkan Petrokimia Nasional: Strategi Diversifikasi Bahan Baku Hadapi Tekanan Impor Global

- Industri petrokimia yang dikenal sebagai "mother of industry" kini berada di persimpangan jalan strategis menjelang tahun 2027.
- Meskipun menjadi tulang punggung bagi sektor manufaktur seperti plastik, tekstil, dan otomotif, sektor ini menghadapi tantangan ganda berupa optimalisasi kapasitas domestik dan tekanan kelebihan pasokan global.
- Namun, utilisasi tersebut belum maksimal; proyeksi menyebutkan kapasitas domestik hanya mampu memenuhi 60โ66 persen kebutuhan dalam negeri pada 2027.
Industri petrokimia yang dikenal sebagai "mother of industry" kini berada di persimpangan jalan strategis menjelang tahun 2027. Meskipun menjadi tulang punggung bagi sektor manufaktur seperti plastik, tekstil, dan otomotif, sektor ini menghadapi tantangan ganda berupa optimalisasi kapasitas domestik dan tekanan kelebihan pasokan global. Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Sri Bimo Pratomo, menegaskan bahwa penguatan investasi serta diversifikasi bahan baku adalah kunci untuk meningkatkan daya saing industri hilir nasional.
Celah Kapasitas Produksi dan Serbuan Produk Impor
Data Kemenperin menunjukkan bahwa pada 2026, kapasitas terpasang nasional mencapai sekitar 2,1 juta ton polypropylene (PP), 1,99 juta ton polyethylene (PE), 1,3 juta ton propylene, dan 2,13 juta ton ethylene. Namun, utilisasi tersebut belum maksimal; proyeksi menyebutkan kapasitas domestik hanya mampu memenuhi 60โ66 persen kebutuhan dalam negeri pada 2027. Kekosongan ini diisi oleh impor masif, terutama pada kuartal I 2026 yang mencatatkan volume signifikan:
- Polypropylene: 266.915 ton
- Polyethylene: 251.371 ton
- Purified Terephthalic Acid (PTA): 376.240 ton
- Polyethylene Terephthalate (PET): 125.863 ton
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiyono, menjelaskan bahwa produk komoditas dasar sangat sensitif terhadap harga, sehingga konsumen cenderung memilih impor yang lebih murah dibandingkan produksi lokal. Sementara itu, produk specialty grade relatif lebih tahan banting karena karakteristik pasar yang spesifik.
Diversifikasi Feedstock dan Inovasi Teknologi Lokal
Untuk mereduksi ketergantungan pada nafta dan menekan biaya produksi, pemerintah mendorong kebijakan bea masuk nol persen untuk LPG sebagai bahan baku alternatif. Kebijakan sementara hingga awal 2027 ini terbukti meningkatkan produktivitas industri, sehingga Kemenperin tengah mengkaji keberlanjutannya. Selain itu, peluang jangka panjang terbuka melalui pengembangan teknologi Coal to Chemical. Gasifikasi batu bara domestik dapat menghasilkan metanol yang kemudian diolah menjadi etilen dan propilen, menciptakan rantai pasok yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi di tengah dinamika pasar global.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

857 UMK Binaan Pertamina Lolos Tahap Nasional, Fokus Penguatan Digital dan Manajemen
Laba Dana Pertukaran Hong Kong Anjlok 74%, Otoritas Moneter Peringatkan Turbulensi Pasar

Mentan Amran Perkuat Ekosistem Jagung-Peternak, SPHP Jadi Solusi Tekan Biaya Pakan
