Tekanan Finansial Bersejarah UNRWA: Guterres Dorong Pendanaan Penuh, Defisit US$80 Jadi Ancaman Nyata
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghadapi ujian serius dalam menjaga keberlangsungan bantuan kemanusiaan di Palestina.
- Sekretaris Jenderal PBB, Antรณnio Guterres , secara tegas menegaskan kembali komitmennya untuk membela Badan PBB untuk Pengungsi Palestina ( UNRWA ) dari segala upaya pemotongan anggaran.
- Penegasan ini disampaikan Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric , pada Jumat (6/11), sebagai respons langsung terhadap laporan keuangan UNRWA yang mengungkap tekanan operasional tanpa preseden.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghadapi ujian serius dalam menjaga keberlangsungan bantuan kemanusiaan di Palestina. Sekretaris Jenderal PBB, Antรณnio Guterres, secara tegas menegaskan kembali komitmennya untuk membela Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dari segala upaya pemotongan anggaran. Penegasan ini disampaikan Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, pada Jumat (6/11), sebagai respons langsung terhadap laporan keuangan UNRWA yang mengungkap tekanan operasional tanpa preseden. Guterres menyerukan agar seluruh fungsi kritis UNRWA didanai secara penuh guna mencegah kolapsnya layanan vital bagi para pengungsi.
Konteks ketegangan ini muncul setelah UNRWA mengeluarkan pernyataan resmi pada Kamis (5/11), yang menyorit kondisi operasional yang semakin ketat. Badan tersebut menyatakan bahwa situasi fiskal saat ini mengancam kemampuannya untuk mempertahankan layanan-layanan esensial. Tekanan terhadap kemampuan anggaran UNRWA ini disebut-sebut sebagai ancaman paling besar yang pernah dihadapi lembaga kemanusiaan tersebut, di mana defisit arus kas telah menjadi hambatan utama dalam keberlanjutan misi mereka.
Krisis Finansial dan Hambatan Operasional
UNRWA kini menghadapi defisit arus kas yang signifikan sebesar US$80 juta (setara dengan Rp1,4 triliun). Selain defisit tersebut, lembaga ini juga terbebani oleh akumulasi kewajiban dan beban keuangan berulang yang menciptakan tantangan jangka panjang bagi kelangsungan operasinya. Hambatan ini bukan hanya berasal dari sisi internal keuangan, melainkan juga dari eksternal, terutama dari Israel. Dalam beberapa tahun terakhir, Israel dinilai telah menimbulkan berbagai tantangan hukum, administratif, dan praktis yang mempersulit UNRWA dalam menjalankan tugasnya di wilayah Palestina yang diduduki. Menanggapi hal ini, UNRWA menuntut agar penghalang tersebut dihapus sehingga peran penting mereka dalam mendukung pengungsi Palestina dapat terus dijalankan tanpa interupsi.
Implikasi Kemanusiaan di Tengah Gencatan Senjata
Krisis pendanaan ini terjadi di tengah situasi kemanusiaan yang kian genting di Jalur Gaza. Mengutip data dari kantor berita Palestina, Wafa, jumlah korban tewas akibat agresi Israel sejak Oktober 2023 telah melonjak menjadi 74.640 jiwa, sementara setidaknya 175.947 orang dilaporkan terluka. Sejak berlakunya gencatan senjata pada 11 Oktober, situasinya tetap kritis; tercatat 1.610 warga Palestina tewas dan 5.819 orang luka dalam serangan udara dan tembakan. Peringatan terbaru dari otoritas medis menegaskan bahwa ribuan korban masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan dan jalanan, sementara tim penyelamat dan ambulans kesulitan menjangkau mereka. Kondisi darurat yang memburuk ini semakin memperkuat urgensi Guterres untuk memastikan UNRWA memiliki sumber daya yang memadai guna merespons kebutuhan kemanusiaan yang mendesak di lapangan.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Gagasan Revolusioner Menlu Qatar: Membentuk Blok 'Negara-Negara Berkembang Pesat' untuk Mampu Tawar Global

Aktivis Terobos Lokasi Data Center Microsoft di Amsterdam, Protes Dampak AI Lingkungan

Korban Tewas Gaza Tembus 74.640 Jiwa, PBB Desak Dana UNRWA Tidak Dipotong
