Dradjad Wibowo Klarifikasi Daya Beli: Bukan Melemah, Melainkan Bertransformasi ke Sektor Digital
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Pernyataan ini disampaikan Dradjad dalam program CNBC Indonesia Power Lunch di Jakarta, Sabtu, untuk meluruskan narasi yang berkembang di tengah tantangan ekonomi global.
- Pergeseran ini menuntut pelaku usaha untuk mengubah strategi bisnis secara fundamental.
- Dradjad menjelaskan bahwa pemahaman yang keliru mengenai penurunan daya beli bisa menghambat respons kebijakan yang tepat.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan bahwa dinamika daya beli masyarakat Indonesia saat ini tidak dapat didefinisikan sebagai pelemahan, melainkan sebuah pergeseran struktural akibat transformasi pola konsumsi. Pernyataan ini disampaikan Dradjad dalam program CNBC Indonesia Power Lunch di Jakarta, Sabtu, untuk meluruskan narasi yang berkembang di tengah tantangan ekonomi global. Menurutnya, tekanan yang dirasakan oleh sejumlah sektor industri tradisional hanyalah fase adaptasi di mana aktivitas ekonomi secara alami bergeser ke segmen baru yang lebih adaptif terhadap kebutuhan modern masyarakat.
Pergeseran ini menuntut pelaku usaha untuk mengubah strategi bisnis secara fundamental. Dradjad menjelaskan bahwa pemahaman yang keliru mengenai penurunan daya beli bisa menghambat respons kebijakan yang tepat. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi krusial untuk mengantisipasi perubahan struktur ekonomi ini, memastikan bahwa transisi yang sedang terjadi dapat dioptimalkan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
Rincian Pergeseran Sektor dan Data Makroekonomi
Sejumlah sektor industri tradisional, khususnya tekstil, produk tekstil, dan alas kaki, mengalami tekanan signifikan karena belum menjadi tulang punggung utama penyerapan lapangan kerja. Sebaliknya, sektor yang menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi kini didominasi oleh industri telekomunikasi, transportasi, serta hotel dan restoran. Pergeseran konsumsi rumah tangga ke sektor-sektor jasa dan digital ini menjadi indikator jelas bahwa preferensi belanja masyarakat telah berubah, sebuah tren yang harus dipahami oleh para pengambil keputusan bisnis untuk melakukan transformasi operasional.
Di balik pergeseran sektoral tersebut, fundamental industri pengolahan nasional tetap tercatat solid. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Oktober 2026 mencapai angka 53,77, naik dari 51,93 pada September 2026. Peningkatan ini membuktikan bahwa meskipun ada subsektor yang tertekan, keseluruhan ekosistem industri masih berada dalam fase ekspansi yang sehat. Data ini menjadi penyeimbang bagi kekhawatiran di sektor tekstil dan menunjukkan potensi nilai tambah ekonomi yang tetap terbuka lebar.
Penguatan Keunggulan Kompetitif dan Respons Industri
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyambut baik penguatan sentimen pelaku usaha tersebut. Dalam Sago Business Forum 2026 di Jakarta, Sarmuji menyatakan bahwa narasi kemerosotan industri di Indonesia telah terbantahkan dengan data terkini yang sangat positif. Ia mencatat bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai angka 54, yang menandakan ekspansi terkuat dalam 31 bulan terakhir atau sejak Maret 2024. Capaian ini mencerminkan kepercayaan tinggi dari investor dan industrialis terhadap prospek ekonomi nasional.
Berdasarkan data Standard & Poor's, posisi Indonesia kini lebih unggul dibanding beberapa negara pesaing utama di kawasan dan global. Prestasi tersebut mengukuhkan industri nasional tetap menjadi pilar penting dalam upaya memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan nilai tambah perekonomian. Detail perbandingan kinerja PMI Oktober 2026:
- Indonesia: 54
- China: 52
- Vietnam: 52,3
- Malaysia: 51
- Australia: 49 (Kontraksi)
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

857 UMK Binaan Pertamina Lolos Tahap Nasional, Fokus Penguatan Digital dan Manajemen
Laba Dana Pertukaran Hong Kong Anjlok 74%, Otoritas Moneter Peringatkan Turbulensi Pasar

Mentan Amran Perkuat Ekosistem Jagung-Peternak, SPHP Jadi Solusi Tekan Biaya Pakan
