UNESCO Tetapkan Naskah Kronik Letusan Gunung Tambora Kesultanan Bima Masuk MoWCAP
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- UNESCO resmi memberikan pengakuan internasional terhadap Bo' Sangaji Kai , naskah kronik milik Kesultanan Bima di Nusa Tenggara Barat, yang merekam kesaksian sejarah letusan Gunung Tambora .
- Naskah tersebut baru saja ditetapkan ke dalam Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MoWCAP), sebuah langkah monumental yang menegaskan nilai universal dari catatan sejarah lokal Indonesia.
- Kedalaman isi naskah ini memberikan perspektif unik tentang bagaimana masyarakat setempat memaknai bencana iklim yang mengubah wajah dunia.
UNESCO resmi memberikan pengakuan internasional terhadap Bo' Sangaji Kai, naskah kronik milik Kesultanan Bima di Nusa Tenggara Barat, yang merekam kesaksian sejarah letusan Gunung Tambora. Naskah tersebut baru saja ditetapkan ke dalam Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MoWCAP), sebuah langkah monumental yang menegaskan nilai universal dari catatan sejarah lokal Indonesia. Menurut Muhamad Ihwan, Kepala Dinas Kebudayaan NTB, naskah ini bukan sekadar dokumen, melainkan sumber primer yang merekam pergolakan politik, diplomasi, dan perdagangan dari abad ke-17 hingga ke-19, dengan penekanan khusus pada dampak global letusan Tambora tahun 1815.
Kedalaman isi naskah ini memberikan perspektif unik tentang bagaimana masyarakat setempat memaknai bencana iklim yang mengubah wajah dunia. Selain mengisahkan sejarah alam, dokumen ini juga memetakan jaringan antarkerajaan di Asia Tenggara serta mencatat eksistensi penguasa perempuan dan sistem perlindungan hukum bagi mereka. Nilai historis inilah yang membuat MoWCAP menilai warisan dokumen ini memiliki relevansi lintas batas wilayah, menjadikannya bahan kajian penting bagi studi sejarah sosial, politik, hukum, dan kebudayaan yang melampaui konteks daerah NTB.
Alur Pengusulan dan Kolaborasi Lintas Lembaga
Pencapaian pengakuan internasional ini merupakan hasil dari kerja sama kolaboratif yang melibatkan berbagai entitas strategis. Proses pengajuan Bo' Sangaji Kai melibatkan Perpustakaan Nasional RI, Yayasan Museum Sampa Radja, dan Pemerintah Provinsi NTB, yang bersama-sama mengkurasi dan mempresentasikan kekayaan koleksi daerah ini ke panggung penilaian UNESCO. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa upaya melestarikan warisan daerah memerlukan sinergi institusional untuk memastikan integritas data dan kredibilitas akademik. Ihwan menekankan bahwa pengakuan ini memperluas perhatian global terhadap pentingnya menjaga naskah fisik dan memetakan pengetahuan di dalamnya agar dapat diakses oleh generasi mendatang.
Proses ini tidak hanya berfokus pada aspek pelestarian, tetapi juga pada strategi distribusi pengetahuan. Dengan masuknya naskah ini ke dalam register regional UNESCO, diharapkan terdapat mekanisme perlindungan hukum yang lebih kuat serta standar konservasi internasional yang diterapkan di NTB. Hal ini menjadi fondasi awal untuk memastikan bahwa naskah kuno ini tetap menjadi referensi otentik bagi para peneliti sejarah global.
Dampak Strategis: Dari Wisata Edukasi hingga Diplomasi Pengetahuan
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pengakuan MoWCAP membuka ruang luas bagi NTB untuk menjalin jejaring akademik dengan perpustakaan, museum, dan perguruan tinggi di kawasan Asia-Pasifik. Hal ini berpotensi besar untuk memperkuat industri wisata edukasi yang terintegrasi dengan Museum Sampa Radja dan narasi sejarah Kesultanan Bima. Warisan dokumenter ini akan diolah menjadi materi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan modern, mengonfirmasi bahwa NTB memiliki tradisi intelektual yang bernilai tinggi.
Iqbal menyatakan, "Dari Bima, warisan pengetahuan Bo' Sangaji Kai menjangkau masyarakat yang lebih luas dan membawa pesan bahwa NTB memiliki akar sejarah serta tradisi intelektual yang bernilai bagi Indonesia dan dunia." Melalui inisiatif ini, kebanggaan masyarakat didorong untuk mengenali kembali kekayaan leluhurnya, sekaligus menjadikan NTB sebagai pusat referensi global dalam kajian dampak iklim historis dan diplomasi maritim Asia Tenggara.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Semeru Erupsi Dini Hari, Kolom Abu Capai 200 Meter Menuju Barat Daya

Ahmad Doli Bongkar Dugaan Aksi 'Komprador' Internal di Balik Rumor Munaslub Golkar

Indonesia Pingpong League Siapkan Liga Tenis Meja Elite Mulai 2027, Targetkan 10 Klub dan Pemain Asing
