Trump Angkat Bicara: Tarif Impor Tetap Berjalan Meski Republik Kalah Telak di Pemilu Paruh Waktu
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Trump berargumen bahwa keberlangsungan tarif ini telah mendorong banyak negara untuk menanamkan modal di Amerika Serikat guna menghindari pungutan impor yang tinggi.
- Langkah ini direncanakan akan segera dilakukan setelah sesi sidang Kongres AS yang baru dimulai pada Januari 2027.
- Namun, upaya legislasi tersebut menghadapi hambatan struktural, mengingat semua Rancangan Undang-Undang (RUU) yang disahkan oleh Partai Demokrat di Kongres AS masih dapat diveto oleh Presiden Trump.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kebijakan tarif impor yang kontroversial, meskipun Partai Republik mengalami kekalahan besar dalam pemilihan paruh waktu (midterm election) pekan ini. Pernyataan tegas tersebut diutarakan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis, di tengah kekhawatiran luas bahwa kebijakan tarif justru menjadi salah satu pemicu melonjaknya biaya hidup di AS, sebuah isu krusial yang mendominasi narasi pemilu kali ini.
Trump berargumen bahwa keberlangsungan tarif ini telah mendorong banyak negara untuk menanamkan modal di Amerika Serikat guna menghindari pungutan impor yang tinggi. "Jika kita batalkan tarifnya, mereka pasti akan kegirangan dan kemudian langsung menghentikan pembangunan mereka di sini," ujar Trump, mengisyaratkan bahwa pencabutan tarif akan memicu banjir barang-barang dari China, Jepang, dan Korea Selatan ke pasar domestik AS.
Respons Demokrat dan Batasan Kekuasaan Eksekutif
Di sisi lain, Partai Demokrat, yang berhasil meraih kursi mayoritas di DPR dan Senat AS melalui pemilihan paruh waktu pada Selasa (3/11), telah mengisyaratkan akan mendorong pemerintahan Trump untuk mencabut tarif impor tersebut. Langkah ini direncanakan akan segera dilakukan setelah sesi sidang Kongres AS yang baru dimulai pada Januari 2027. Namun, upaya legislasi tersebut menghadapi hambatan struktural, mengingat semua Rancangan Undang-Undang (RUU) yang disahkan oleh Partai Demokrat di Kongres AS masih dapat diveto oleh Presiden Trump.
Pemerintahan Trump telah menerapkan tarif hingga sebesar 12,5 persen untuk barang-barang dari 60 mitra dagang AS, yang mencakup raksasa ekonomi seperti China, Jepang, dan Uni Eropa. Selain tarif umum, pungutan khusus juga diberlakukan untuk impor komoditas di sektor permobilan dan baja, menunjukkan kedalaman intervensi kebijakan perdagangan yang sedang berjalan.
Dampak Ekonomi dan Implikasi Politik Jangka Panjang
Kebijakan ini menciptakan dinamika politik yang kompleks di mana legislatif dan eksekutif saling berseberangan dalam isu perdagangan. Bagi Partai Demokrat, pencabutan tarif dilihat sebagai solusi untuk menekan inflasi dan meringankan beban ekonomi rumah tangga, sementara bagi Trump, tarif adalah instrumen strategis untuk melindungi industri dalam negeri dan menarik investasi asing. Ketegangan ini diprediksi akan menjadi sorotan utama dalam dinamika politik AS sepanjang tahun 2026 hingga 2027, dengan dampak langsung pada stabilitas rantai pasok global dan kepercayaan investor internasional terhadap kebijakan ekonomi Washington.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Menhut Raja Juli Antoni Soroti Hambatan Evakuasi Helikopter Mi-17V5 di Tanjung Puting

Menhut Lapor Presiden: Maksimalkan Evakuasi Helikopter Mi-17V5 yang Nyungsep di Lumpur Kalteng

PLN dan Bappisus Perkuat Sinergi: Jaga Keandalan Listrik Nasional Tanpa Mengorbankan Keterjangkauan Tarif
