Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Tiza Mafira: Gejolak Geopolitik Dorong Investasi Energi Terbarukan Melampaui Migas

EkonomiDian KusumaDian KusumaSumber: Antara News
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Tiza Mafira: Gejolak Geopolitik Dorong Investasi Energi Terbarukan Melampaui Migas
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Tiza Mafira , Direktur Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, menegaskan bahwa lonjakan investasi energi baru dan terbarukan (EBT) secara global dipicu oleh fluktuasi harga bahan bakar fosil.
  • Fenomena ini terjadi akibat ketidakstabilan harga batu bara, minyak, dan gas bumi yang berfluktuasi tajam seiring dengan eskalasi konflik geopolitik dan krisis global.
  • Pernyataan ini disampaikannya dalam media training bertema "Penguatan Kapasitas Media dalam Diskursus Energi Surya Nasional" yang diselenggarakan oleh Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) di Jakarta, Jumat.

Tiza Mafira, Direktur Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, menegaskan bahwa lonjakan investasi energi baru dan terbarukan (EBT) secara global dipicu oleh fluktuasi harga bahan bakar fosil. Fenomena ini terjadi akibat ketidakstabilan harga batu bara, minyak, dan gas bumi yang berfluktuasi tajam seiring dengan eskalasi konflik geopolitik dan krisis global. Pernyataan ini disampaikannya dalam media training bertema "Penguatan Kapasitas Media dalam Diskursus Energi Surya Nasional" yang diselenggarakan oleh Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) di Jakarta, Jumat.

Menurut Tiza, volatilitas pasar energi konvensional telah mengubah peta investasi dunia. Pada tahun 2026, aliran dana investasi energi secara global diproyeksikan mengalir dua kali lipat lebih besar ke sektor energi terbarukan dibandingkan dengan sektor batu bara dan minyak gas. Pergeseran ini mencerminkan upaya kolektif investor untuk memutus ketergantungan pada sumber daya yang rentan terhadap guncangan harga eksternal.

Strategi Diversifikasi dan Kepastian Pasar

Investor kini memandang diversifikasi ke energi bersih sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko volatilitas harga fosil. Tiza menjelaskan bahwa pendanaan hijau sedang menjadi arus utama karena menawarkan stabilitas jangka panjang. Di Indonesia, peta pembiayaan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terus menunjukkan tren peningkatan, termasuk melalui akses ke peluang pendanaan hijau global. Namun, kelayakan pembiayaan atau bankability sebuah proyek tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh persepsi pasar.

Keyakinan investor dibangun di atas kepastian regulasi dan pemahaman publik yang luas mengenai potensi energi surya domestik. Tiza menekankan bahwa antusiasme masyarakat yang tercermin dari liputan media tentang efisiensi biaya listrik dan kemudahan instalasi PLTS berperan krusial. "Liputan tentang penghematan biaya listrik, mudahnya pemasangan PLTS, semua ikut mengurangi keraguan pasar. Ini semua menjadi jembatan agar investasi hijau tertarik masuk ke Indonesia," ujar Tiza.

Peran Media dalam Membangun Kepercayaan Investor

Peran media massa dinilai vital sebagai katalisator kepercayaan investor. Narasi positif mengenai penghematan biaya operasional dan kemudahan teknis instalasi PLTS berfungsi sebagai bukti nyata yang mereduksi risiko perseptual bagi para pemodal. Dengan demikian, transparansi informasi dan edukasi publik menjadi komponen penting dalam ekosistem investasi energi bersih nasional. Langkah ini sejalan dengan dorongan pemerintah untuk memperkuat bauran energi bersih dan memastikan kesiapan industri lokal dalam menyerap investasi tersebut.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ