Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Rupiah Parkir di Rp18.080 per Dolar AS, BI Catat Cadangan Devisa Naik ke US$146,8 Miliar

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Market & Saham
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Rupiah Parkir di Rp18.080 per Dolar AS, BI Catat Cadangan Devisa Naik ke US$146,8 Miliar
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (6/11/2026).
  • Meski sempat tertekan cukup dalam, mata uang Garuda berhasil memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.
  • Merujuk data Refinitiv , rupiah ditutup melemah 0,03% ke posisi Rp18.080/US$ , dibandingkan penutupan Kamis (5/11/2026) di level Rp18.075/US$.

Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (6/11/2026). Meski sempat tertekan cukup dalam, mata uang Garuda berhasil memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan. Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,03% ke posisi Rp18.080/US$, dibandingkan penutupan Kamis (5/11/2026) di level Rp18.075/US$. Rupiah sejatinya sempat dibuka menguat 0,03% ke posisi Rp18.070/US$, namun pergerakannya kemudian berbalik arah hingga menyentuh Rp18.140/US$ sebelum kembali menguat dan memangkas pelemahannya menjadi hanya 5 poin dari penutupan kemarin.

Di sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,39% ke posisi 101,939 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan ini didorong oleh aksi jual saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di Wall Street yang merambat ke bursa Asia, mendorong investor mencari aset aman. Namun, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor yang membatasi penguatan dolar lebih lanjut.

Rincian Cadangan Devisa dan Tekanan Fiskal

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 meningkat menjadi US$146,8 miliar dari US$146,3 miliar pada September. Kenaikan tersebut ditopang penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.

  • Cadangan devisa setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
  • Posisi ini masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
  • BI menilai cadangan devisa yang memadai mendukung ketahanan sektor eksternal dan stabilitas perekonomian.

"Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Jumat (6/11/2026).

Peringatan Risiko Downgrade dan Antisipasi Data NFP

Di sisi lain, risiko fiskal Indonesia turut menjadi perhatian. Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memperingatkan potensi penurunan peringkat utang (downgrade) jika rasio beban bunga terhadap penerimaan negara tidak turun di bawah 15% dalam dua tahun ke depan. "Kalau ke depan, dalam dua tahun ke depan, itu tidak turun ke bawah 15%, ada potensi downgrade yang bisa dilakukan," kata Irman. Menurutnya, pemerintah perlu menjaga defisit APBN maksimal 3% terhadap PDB guna menekan biaya pinjaman.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data non-farm payrolls (NFP) AS periode Oktober pada malam ini pukul 20.30 WIB. Pasar memperkirakan ekonomi AS menambah 65.000 lapangan kerja pada Oktober, meningkat dari 29.000 pada September. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai kondisi ketenagakerjaan AS sekaligus prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), yang berpotensi memberikan sentimen baru bagi pergerakan rupiah di pekan depan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ