Rupiah Diprediksi Menguat ke Rp18.025 Didorong Kemenangan Demokrat di AS dan Akselerasi Ekonomi Domestik
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp18.025–Rp18.125 pada perdagangan Jumat, dipengaruhi oleh dinamika global dan domestik.
- Sentimen pasar global berubah drastis pasca-kemenangan telak Partai Demokrat dalam *midterm elections*.
- Investor mulai mencermati implikasi politik tersebut, yang memicu aksi jual di pasar saham AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp18.025–Rp18.125 pada perdagangan Jumat, dipengaruhi oleh dinamika global dan domestik. Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, mengungkapkan bahwa pergerakan mata uang ini didorong oleh hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat yang dimenangkan oleh Partai Demokrat, serta data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dari perkiraan.
Sentimen pasar global berubah drastis pasca-kemenangan telak Partai Demokrat dalam *midterm elections*. Investor mulai mencermati implikasi politik tersebut, yang memicu aksi jual di pasar saham AS. Kekhawatiran muncul bahwa pejabat Demokrat yang baru terpilih akan mendorong kebijakan lebih ketat terhadap industri Artificial Intelligence (AI), menyebabkan peralihan investasi dari saham teknologi ke aset *safe haven*. Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia turut mendukung penguatan sentimen ini.
Respons Pasar Global dan Akselerasi Ekonomi Kuartal III
Di dalam negeri, sentimen positif juga datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026. Angka tersebut secara mengejutkan meningkat menjadi 5,47 persen secara *year on year* (yoy), naik dari 5,29 persen pada kuartal sebelumnya. Akselerasi ini ditopang oleh peningkatan pertumbuhan ekspor dan perubahan inventori, meskipun permintaan domestik masih melemah. Kombinasi faktor eksternal dan internal ini menciptakan lanskap perdagangan yang unik bagi mata uang Garuda.
Sebagai dampak dari membaiknya sentimen risiko global dan turunnya harga minyak, yield obligasi pemerintah Indonesia mengalami penurunan di seluruh tenor pada perdagangan Kamis (5/11). Berikut rincian pergerakan yield obligasi benchmark:
- Tenor 5 tahun: Turun 20 basis points (bps) menjadi 7,38 persen
- Tenor 10 tahun: Turun 8 bps menjadi 7,66 persen
- Tenor 15 tahun: Turun 2 bps menjadi 7,73 persen
- Tenor 20 tahun: Turun 7 bps menjadi 7,69 persen
Aktivitas perdagangan obligasi juga meningkat signifikan, dengan total volume transaksi melonjak menjadi Rp25,9 triliun dari Rp19,46 triliun pada perdagangan sebelumnya.
Dinamika Kepemilikan Asing dan Prospek Pasar
Terlepas dari peningkatan volume transaksi, Josua Pardede mencatat adanya penyesuaian posisi investor asing. Kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia tercatat turun sebesar Rp0,68 triliun menjadi Rp915 triliun per 4 November 2026, setara dengan 12,97 persen dari total *outstanding*. Penurunan ini menjadi catatan penting bagi pelaku pasar dalam menilai stabilitas aliran modal asing di tengah volatilitas politik global. Dengan demikian, pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi ujian keseimbangan antara daya tarik fundamental ekonomi domestik yang menguat dan ketidakpastian kebijakan geopolitik di Amerika Serikat.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Menhut Raja Juli Antoni Soroti Hambatan Evakuasi Helikopter Mi-17V5 di Tanjung Puting

Menhut Lapor Presiden: Maksimalkan Evakuasi Helikopter Mi-17V5 yang Nyungsep di Lumpur Kalteng

PLN dan Bappisus Perkuat Sinergi: Jaga Keandalan Listrik Nasional Tanpa Mengorbankan Keterjangkauan Tarif
