Hoaks! KLHK Diklaim Nyatakan Orangutan Kalimantan Punah Total, Faktanya 96 Individu Masih Dalam Penanganan
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- Narasi dalam poster tersebut, yang menampilkan ilustrasi hutan terbakar dan kerangka orangutan, menyebut seluruh populasi satwa tersebut habis terbakar dan habitat aslinya musnah secara permanen.
- Justru sebaliknya, data resmi menunjukkan bahwa orangutan masih ditemukan di berbagai wilayah Kalimantan dan menjadi fokus utama upaya penyelamatan satwa terdampak bencana.
- Fenomena cuaca dan bencana seperti ini juga sering dikaitkan dengan prediksi cuaca, contohnya seperti prakiraan cuaca BMKG yang mengingatkan akan anomali iklim.
Sebuah poster digital yang beredar luas di media sosial mengeklaim bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menyatakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) punah total akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Narasi dalam poster tersebut, yang menampilkan ilustrasi hutan terbakar dan kerangka orangutan, menyebut seluruh populasi satwa tersebut habis terbakar dan habitat aslinya musnah secara permanen. Namun, penelusuran fakta menunjukkan bahwa klaim tersebut merupakan hoaks, seperti yang pernah terungkap dalam kasus foto Wapres Gibran, karena tidak ditemukan pernyataan resmi pemerintah yang mendukung narasi kepunahan total itu.
Justru sebaliknya, data resmi menunjukkan bahwa orangutan masih ditemukan di berbagai wilayah Kalimantan dan menjadi fokus utama upaya penyelamatan satwa terdampak bencana. Kementerian Kehutanan mencatat bahwa hingga 8 Oktober 2026, sebanyak 290 individu satwa liar terdampak karhutla masih dalam penanganan aktif, dengan mayoritas ditangani oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di empat provinsi di Kalimantan. Fenomena cuaca dan bencana seperti ini juga sering dikaitkan dengan prediksi cuaca, contohnya seperti prakiraan cuaca BMKG yang mengingatkan akan anomali iklim.
96 Orangutan Masih Dalam Proses Rehabilitasi dan Pemulihan
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menjelaskan bahwa dari total satwa yang ditangani, terdapat 96 individu orangutan Kalimantan. Ia menegaskan bahwa angka tersebut mencakup data penanganan di seluruh wilayah Kalimantan Tengah, bukan hanya di Taman Nasional Tanjung Puting. Proses penanganan ini bersifat komprehensif, meliputi evakuasi, penggiringan ke habitat yang lebih aman, translokasi, perawatan medis, hingga rehabilitasi fisik dan perilaku satwa.
Perkembangan terbaru semakin membantah narasi kepunahan. Pada 29 Oktober 2026, BKSDA Kalimantan Barat berhasil melepasliarkan sembilan orangutan yang sebelumnya diselamatkan dari kawasan terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Pelepasliaran ini dilakukan di Hutan Lindung Batu Nyambu setelah satwa-satwa tersebut menjalani pemulihan intensif di pusat rehabilitasi YIARI. Saat ditemukan, kesembilan orangutan itu mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi, bahkan dua di antaranya menderita luka bakar pada kaki akibat bara api lahan gambut.
Pemerintah Perkuat Sekat Bakar dan Pemantauan Habitat
Untuk mencegah ancaman serupa, pemerintah juga mengambil langkah proaktif dalam perlindungan habitat. Kementerian Kehutanan membangun sekat bakar sepanjang sekitar 3,2 kilometer di Desa Paring Lahung, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, guna menghambat penyebaran api. Selain itu, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) secara aktif mendokumentasikan keberadaan orangutan dan satwa endemik lainnya di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, serta melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap satwa yang telah dilepasliarkan. Dengan bukti-bukti konkret ini, klaim kepunahan total orangutan Kalimantan dipastikan tidak benar.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

BGN Tegaskan Tak Ada Kewajiban SPPG Pangkas Relawan MBG, Cukup Sesuaikan Biaya Operasional

BBMKG Imbau Waspada: Pasang Air Laut Bali Puncak 8-11 November 2026

Kebakaran Gudang Kembang Api di Minahasa Utara: 114 Personel Gabungan Baku Hantam Api demi Cegah Penyebaran
