DEN Dorong Akselerasi Energi Panas Bumi Lampung untuk Atasi Defisit Listrik dan Jaga Lingkungan
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

- Pernyataan ini disampaikan saat kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Lampung, Jumat.
- Surono menyoroti potensi panas bumi di Lampung yang dianggap memiliki kekuatan luar biasa, sekaligus menekankan bahwa pengembangan energi ini dirancang untuk tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup.
- Kendati pengembangan panas bumi memerlukan izin lahan seluas ratusan hektare, Surono menjelaskan bahwa tingkat pemanfaatan lahan tersebut sangat efisien.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Surono menegaskan bahwa pemerintah sedang mengakselerasi pengelolaan energi panas bumi di berbagai wilayah strategis, termasuk Lampung, guna meningkatkan porsi energi bersih dalam bauran listrik nasional. Pernyataan ini disampaikan saat kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Lampung, Jumat. Surono menyoroti potensi panas bumi di Lampung yang dianggap memiliki kekuatan luar biasa, sekaligus menekankan bahwa pengembangan energi ini dirancang untuk tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup.
Kendati pengembangan panas bumi memerlukan izin lahan seluas ratusan hektare, Surono menjelaskan bahwa tingkat pemanfaatan lahan tersebut sangat efisien. Hanya sekitar 2 persen dari luas izin yang benar-benar digunakan untuk operasional, sementara sisanya dialokasikan secara ketat untuk konservasi. Pendekatan ini bertujuan menjaga kesinambungan cadangan air tanah yang menjadi prasyarat teknis agar sistem panas bumi tetap berfungsi secara optimal.
Strategi Konservasi dan Ketahanan Pasokan
Dari sisi teknis operasional, Surono menegaskan bahwa panas bumi merupakan energi baseload yang tidak bergantung pada cuaca dan bebas dari ketergantungan impor bahan bakar fosil. "Jadi tidak mungkin pengusaha panas bumi merusak lingkungan, itu sama dengan bunuh diri," ujar Surono. Ia menekankan bahwa keseimbangan ekosistem harus dijaga karena kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada hilangnya potensi panas bumi itu sendiri, membuat investasi jangka panjang menjadi tidak berkelanjutan.
Dukungan terhadap transisi energi ini juga datang dari akademisi. Rektor Universitas Lampung (Unila), Lusmeilia Afriani, menilai bahwa institusi pendidikan berperan aktif dalam mendukung swasembada energi melalui riset. "Yang telah dilakukan kami cukup banyak... salah satunya pemanfaatan energi matahari, kemudian dari panas bumi," kata Lusmeilia. Unila juga tengah meneliti pengelolaan energi dari sampah rumah tangga dan kotoran menjadi gas, sebagai bagian dari solusi kompleks menghadapi krisis energi global dan perubahan iklim.
Target Kapasitas Nasional dan Defisit Lokal
Kebutuhan pengembangan ini sangat relevan dengan kondisi kelistrikan di Lampung yang saat ini mengalami defisit daya. Kapasitas pembangkit di provinsi tersebut hanya mencapai 800 mega watt, sementara beban puncak telah mencapai 1.300 mega watt. Namun, Lampung memiliki cadangan potensi panas bumi sebesar 2,8 giga watt dan bioenergi 0,05 giga watt. Selain potensi tersebut, terdapat tambahan kapasitas 55 mega watt dari PLTP Ulubelu Gunung Tiga yang sudah beroperasi, serta potensi pengembangan lanjutan di wilayah kerja seperti Gunung Rajabasa, Way Ratai, dan Suoh.
Untuk memetakan arah pengembangan jangka panjang, DEN telah menetapkan target kontribusi energi panas bumi nasional yang ambisius. Berdasarkan data DEN, target sumbangan energi panas bumi diproyeksikan meningkat secara bertahap sebagai berikut:
- 2030: 6-9 giga watt
- 2040: 9-14 giga watt
- 2050: 15-20 giga watt
- 2060: 18-22 giga watt
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Pemkab Jember Raih Apresiasi Nasional atas Inovasi Layanan Publik Home Care dan GNPP 24/7

Malang Fashion Week 2026: 30 Desainer Multigenerasi Reinterpretasi Wastra Nusantara dalam Tema Regen

Ashoka Indonesia Umumkan 12 Tim Inovasi Terbaik dari 700 Pendaftar dalam Gaharu Bumi Innovation Challenge 2026
