Cambridge Dorong Guru Jadi Arsitek Kebijakan AI di Sekolah, Cegah Kesenjangan Pedagogis
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Delapan Prinsip Utama dan Peran Kritis Guru Untuk mendukung implementasi yang bertanggung jawab, Cambridge mengajukan delapan prinsip utama dalam pemanfaatan AI di sekolah.
- Evelina Galaczi , Director of Research, English, Cambridge University Press & Assessment, menegaskan, "Selama ini, penyusunan kebijakan kerap tertinggal dari pesatnya perkembangan teknologi...
- Akibatnya, muncul kesenjangan pengetahuan dan pendekatan yang tidak seragam dalam pendidikan serta penerapan AI.
Cambridge University Press & Assessment merilis laporan terbaru yang mendesak pembuat kebijakan untuk melibatkan guru secara aktif dalam perumusan aturan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan sekolah. Rekomendasi ini bertujuan mengatasi ketertinggalan regulasi yang kerap tertinggal jauh dari pesatnya perkembangan teknologi, sehingga guru tidak lagi memikul beban adaptasi secara sepihak tanpa panduan yang jelas dan terstruktur.
Laporan bertajuk "Shaping AI Policy and Practice in English Language Teaching" ini merangkum praktik terbaik dari para pengajar bahasa Inggris di berbagai negara yang lebih dahulu mengadopsi Generative AI (GenAI). Studi ini disusun untuk memberikan arah yang lebih terpadu di tengah adopsi AI di dunia pendidikan yang selama ini berjalan tanpa kerangka kerja yang komprehensif, memastikan teknologi tersebut selaras dengan kebutuhan nyata di ruang kelas.
Delapan Prinsip Utama dan Peran Kritis Guru
Untuk mendukung implementasi yang bertanggung jawab, Cambridge mengajukan delapan prinsip utama dalam pemanfaatan AI di sekolah. Prinsip-prinsip ini menekankan pentingnya program pengembangan profesional yang menyeluruh dan berkelanjutan, serta keterlibatan guru dan peserta didik sejak tahap perancangan, pengadaan, penerapan, hingga evaluasi perangkat AI. Fokus utama pendidik adalah membekali siswa dengan kemampuan menilai hasil AI secara kritis, memverifikasi kebenarannya, dan memanfaatkan GenAI sebagai alat bantu belajar, bukan sekadar jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.
Dr. Evelina Galaczi, Director of Research, English, Cambridge University Press & Assessment, menegaskan, "Selama ini, penyusunan kebijakan kerap tertinggal dari pesatnya perkembangan teknologi... Akibatnya, muncul kesenjangan pengetahuan dan pendekatan yang tidak seragam dalam pendidikan serta penerapan AI. Seperti yang sering terjadi, guru pada akhirnya secara diam-diam memikul tanggung jawab untuk membangun pemahaman praktis mengenai penerapan AI yang bertanggung jawab."
Membangun Ekosistem Pendidikan Berbasis Bukti
Laporan ini merupakan kelanjutan dari tiga makalah penelitian Cambridge sebelumnya yang mengkaji peluang dan tantangan GenAI dalam pendidikan bahasa. Dengan melibatkan guru yang telah berhasil bereksperimen di kelas, Cambridge berharap dapat memastikan AI menjadi sarana efektif yang berpusat pada manusia. Pendekatan ini bertujuan mencegah AI menjadi penghambat proses belajar, melainkan menjadi katalisator yang meningkatkan kualitas interaksi pedagogis melalui pertimbangan profesional dan pemahaman kritis yang mendalam.
BERITA TERKAIT (Pendidikan)

Seskab Teddy: 265 Sekolah Rakyat Hadirkan Harapan bagi 45 Ribu Anak Miskin Ekstrem

Kemendikdasmen Wajibkan Bahasa Inggris di SD Mulai 2027/2028, Fokus Komunikasi Bukan Tata Bahasa

Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Tingkatkan Mutu Pembelajaran di Kabupaten Bogor
