Kemendikdasmen Wajibkan Bahasa Inggris di SD Mulai 2027/2028, Fokus Komunikasi Bukan Tata Bahasa

- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ( Kemendikdasmen ) resmi menetapkan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi murid kelas 3 Sekolah Dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028 .
- Kebijakan strategis ini bertujuan membekali siswa dengan kemampuan komunikasi global serta membuka akses terhadap ilmu pengetahuan internasional.
- Pendekatan Komunikatif dan Penyiapan Ribuan Guru Menurut Atip, pendekatan pedagogis akan menekankan metode interaktif seperti lagu dan permainan untuk mengurangi tekanan akademis pada aspek gramatika.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menetapkan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi murid kelas 3 Sekolah Dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028. Kebijakan strategis ini bertujuan membekali siswa dengan kemampuan komunikasi global serta membuka akses terhadap ilmu pengetahuan internasional. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan bahwa orientasi utama kurikulum baru ini bukanlah penguasaan tata bahasa yang kaku, melainkan pembangunan kepercayaan diri dan keterampilan menyimak serta berbicara sejak dini.
Pendekatan Komunikatif dan Penyiapan Ribuan Guru
Menurut Atip, pendekatan pedagogis akan menekankan metode interaktif seperti lagu dan permainan untuk mengurangi tekanan akademis pada aspek gramatika. "Bahasa merupakan alat komunikasi. Karena itu, di kelas III, kami secara sengaja mengurangi penekanan pada tata bahasa dan lebih mengutamakan keterampilan menyimak, berbicara, lagu, permainan, serta membangun kepercayaan diri," ujar Wamendikdasmen Atip. Untuk mendukung implementasi tersebut, pemerintah menargetkan pelatihan sekitar 10 ribu guru pada tahun ini melalui kolaborasi dengan 101 perguruan tinggi, guna memenuhi kebutuhan total 150 ribu guru Bahasa Inggris di seluruh SD nasional.
- Sasaran awal: 58 ribu SD dijadwalkan memulai penerapan pada tahun ajaran 2027/2028.
- Strategi distribusi: Kerja sama dengan Dinas Pendidikan kabupaten untuk pemetaan kebutuhan guru sesuai kondisi daerah.
Dampak Sosial dan Pelestarian Identitas Kebangsaan
Keberhasilan kebijakan ini tidak hanya diukur dari regulasi, tetapi dari dampak nyata bagi peserta didik di wilayah terpencil. Atip menyatakan bahwa indikator kesuksesan adalah ketika seorang anak berusia sembilan tahun di Papua atau desa di Jawa Barat mampu mengucapkan kalimat Bahasa Inggris tanpa rasa takut. Namun demikian, Kemendikdasmen menekankan bahwa penguatan Bahasa Inggris tidak boleh mengesampingkan identitas kebangsaan. Bahasa Indonesia tetap dipertahankan sebagai bahasa persatuan, sementara bahasa daerah harus terus dihargai, khususnya pada tahap-tahap awal pendidikan dasar. Kebijakan ini sejalan dengan upaya nasional lainnya, seperti yang dibahas dalam pemerataan akses pendidikan.
BERITA TERKAIT (Pendidikan)

Seskab Teddy: 265 Sekolah Rakyat Hadirkan Harapan bagi 45 Ribu Anak Miskin Ekstrem

Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Tingkatkan Mutu Pembelajaran di Kabupaten Bogor

Kemenag Tetapkan 52.325 Guru sebagai Peserta PPG Dalam Jabatan 2026, Kuliah Dimulai November
