BTN Perluas Ekosistem Cirkular: Ubah Sampah Jadi Nilai Ekonomi Melalui Waste Station

- (BBTN) resmi memperluas inisiatif pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular melalui peresmian Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
- Langkah strategis ini menandai transformasi peran BTN dari sekadar lembaga pembiayaan perumahan menjadi pengembang ekosistem yang mendukung kualitas kehidupan masyarakat.
- Melalui program ini, masyarakat kini memiliki akses untuk mengubah sampah anorganik menjadi nilai ekonomi nyata yang dapat dicairkan langsung melalui rekening bank.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) resmi memperluas inisiatif pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular melalui peresmian Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Langkah strategis ini menandai transformasi peran BTN dari sekadar lembaga pembiayaan perumahan menjadi pengembang ekosistem yang mendukung kualitas kehidupan masyarakat. Melalui program ini, masyarakat kini memiliki akses untuk mengubah sampah anorganik menjadi nilai ekonomi nyata yang dapat dicairkan langsung melalui rekening bank.
Inisiatif tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah dan BTN, yang bertujuan membangun sistem pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, menjelaskan bahwa pengembangan ini adalah bagian integral dari strategi Beyond Mortgage, di mana fokus perusahaan tidak lagi terbatas pada pengelolaan unit hunian, melainkan mencakup seluruh ekosistem kehidupan penghuninya.
Strategi Ekosistem dan Data Sampah Nasional
Hermita memaparkan bahwa BTN sedang mengembangkan lima ekosistem utama, yaitu pemerintah daerah, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan. Kelima sektor ini berkaitan erat dengan aktivitas masyarakat yang secara tidak langsung menghasilkan sampah. Urgensi pengelolaan sampah sejak dari sumbernya ditegaskan oleh data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, yang mencatat bahwa sampah rumah tangga menyumbang sekitar 50,8% dari total timbulan sampah nasional sebesar 33,79 juta ton.
Untuk memperluas jangkauan, BTN membuka peluang kerja sama dengan pengembang perumahan, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah. Salah satu gagasan utama yang didorong adalah penyediaan fasilitas pemilahan sampah di setiap kawasan perumahan agar masyarakat terbiasa mengelola limbah sejak dari rumah, bukan sekadar memindahkannya ke tempat lain.
Mekanisme Konversi Poin dan Dampak Ekonomi
Waste Station di Banyumas memiliki kapasitas pengumpulan rata-rata sekitar 4 ton sampah per bulan dan beroperasi setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.00-18.00 WIB. Masyarakat dapat menyetorkan berbagai jenis sampah anorganik melalui aplikasi Rekosistem. Jenis sampah yang diterima meliputi:
- Botol plastik dan kaleng
- Kardus dan kertas
- Kaca
- Limbah elektronik
Sampah yang ditimbang akan dikonversi menjadi poin berdasarkan jenis dan beratnya, yang kemudian dapat dicairkan menjadi uang melalui rekening BTN. Pengembangan fasilitas ini melanjutkan keberhasilan Waste Station BTN di Situbondo, yang telah mengumpulkan sekitar 6,8 ton sampah anorganik dengan partisipasi 32 pengguna sejak beroperasi. Ke depan, BTN juga mendorong pemberdayaan generasi muda melalui pelatihan dan business matching, serta berencana memperluas cakupan pengelolaan ke sampah organik untuk menciptakan sirkularitas ekonomi yang lebih komprehensif.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kewajiban Parkir DHE Jadi Opsional: BI Buka Jalan Bank Swasta, Eksportir Migas Bisa Pilih Opsi 30%

Alarm Pasar Modal: 99,64% Saham MKNT Genggam Kencang, Likuiditas Terancam

Gugatan Wanprestasi Mengincar FWD, Sun Life, dan Great Eastern di PN Jaksel
