Trump Salahkan Kandidat dan Perang Iran atas Kekalahan Telak Republik di Pemilu Sela
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak menanggung rasa malu atas kekalahan telak Partai Republik dari Partai Demokrat dalam pemilu sela AS yang berlangsung Selasa (3/11).
- Trump menjelaskan bahwa strategi kampanyenya untuk mendorong para pendukung "berpura-pura saya ikut dalam surat suara" ternyata tidak berhasil mengangkat elektabilitas kandidat Republik.
- "Mereka tidak mampu menginspirasi masyarakat untuk datang memilih," ujar Trump.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak menanggung rasa malu atas kekalahan telak Partai Republik dari Partai Demokrat dalam pemilu sela AS yang berlangsung Selasa (3/11). Dalam wawancara dengan Fox News, Trump memuji dua tahun terakhir masa jabatannya sebagai "terbaik dalam sejarah kepresidenan" dari sisi perekonomian, dan menegaskan bahwa hasil pemilu ini tidak dianggapnya sebagai pukulan pribadi. Ia secara langsung menyalahkan para kandidat Republik yang dianggap gagal mempertahankan wilayah lumbung suara, serta mengakui bahwa perang dengan Iran yang telah berlangsung delapan bulan sebelumnya merupakan salah satu pemicu utama kegagalan ini.
Trump menjelaskan bahwa strategi kampanyenya untuk mendorong para pendukung "berpura-pura saya ikut dalam surat suara" ternyata tidak berhasil mengangkat elektabilitas kandidat Republik. "Mereka tidak mampu menginspirasi masyarakat untuk datang memilih," ujar Trump. Padahal, beberapa kandidat pilihan langsungnya, seperti Darline Graham di South Carolina, Ken Paxton di Texas, Michael Whatley di North Carolina, dan Mike Collins di Georgia, justru kalah meski mendapat dukungan penuh dari presiden.
Perang Iran dan Dampak Ekonomi Jadi Alasan Utama Kekalahan
Lebih lanjut, melalui pernyataan kepada The Wall Street Journal dan media lainnya, Trump menilai bahwa konflik dengan Iran hanyalah "sebagian" dari penyebab kekalahan, bukan satu-satunya alasan. Ia mengakui bahwa perang tersebut telah memicu kenaikan harga bahan bakar yang memukul rakyat kecil. JD Vance, Wakil Presiden AS, juga turut melontarkan komentar serupa dengan menyatakan, "Alasan kita kalah adalah karena perang," yang memicu kemarahan pemilih sehingga banyak mantan pendukung Trump beralih ke Partai Demokrat.
Trump membenarkan pandangan Vance tersebut, menyebutnya "cukup baik," dan bersikeras bahwa perang di Iran tetap sepadan secara strategis untuk mencegah Teheran memiliki senjata nuklir. "Jika saya harus mengulanginya, saya akan tetap lakukan lagi karena itu adalah satu-satunya jawaban jangka panjang," tegas Trump. Ia bahkan menilai bahwa Partai Republik seharusnya menang jika namanya sendiri tercantum di surat suara, menunjukkan hubungannya yang dekat dengan basis pemilih loyal.
Komitmen Kerja Sama dengan Demokrat dan Agenda Nasional
Di tengah perubahan dinamika politik di Washington yang drastis, Trump bersikeras bahwa agendanya tidak akan terhambat. Kepada CNBC, ia memastikan dapat bekerja sama dengan Partai Demokrat di "lebih banyak bidang dari yang diperkirakan masyarakat" dalam masa sidang Kongres AS mendatang. Meskipun partai pengusungnya kalah, Trump berjanji untuk terus melanjutkan serangan militer ke Iran dan menjaga kelangsungan kebijakannya, sementara Partai Demokrat kini menguasai dominasi di Senat dan Dewan Perwakilan AS.
BERITA TERKAIT (Dunia)

IRGC Laporkan Dua Tanker Terbakar di Selat Hormuz, Seret Dampak Eskalasi Konflik AS-Iran

Trump Anggap Perang Iran 'Wajib' Meski Republik Tumbang di Pemilu Sela

Spanyol Minta Bantuan Teknis Uni Eropa Selidiki Tabrakan Kereta Cepat yang Tewaskan 69 Orang
